Pastor yang Berteater vs Umat Kritikus (Membaca Apresiasi dan Kritik atas Pementasan Teater Tungku Haram 3)


Oleh: Eto Kwuta

Pegiat Teater Evergrande Syuradikara Ende

Tidak ada penulis yang selalu benar dalam menulis. Begitu pula teater Tungku Haram karya Yohan Wadu. Beliau adalah seorang pastor dalam kongregasi SVD (Societas Verbi Divini) atau lebih dikenal dengan Serikat Sabda Allah. Pater Yohan Wadu, SVD adalah seorang pastor yang berteater. Tungku Haram merupakan judul keenam jika dilihat dari Allah Sudah Mati yang ditulisnya sejak masih berada di Ledalero, Maumere.

Masa-masa itu, Yohan Wadu masih berstatus sebagai seorang frater dalam SVD yang sudah menonjolkan spiritualitasnya terhadap seni teater. Pater Paulus Budi Kleden, SVD, sekarang menjabat sebagai Superior General SVD sejagad adalah sosok yang mendukung Pater Yohan ketika menjadi ketua Aletheia Ledalero pada masanya. Dalam proses menulis, menghasilkan, dan mementaskan teater, Yohan Wadu belum mengabadikan semua naskahnya dalam bentuk buku, tetapi selalu mementaskannya.

Kegeniusannya sudah terbukti sejak beliau mementaskan Allah sudah Mati (2005), Versus 1, 2, dan 3 (2011), Separuh Nafas (2012), Patah (2013), Kursi Retak 1 dan 2 (2015), dan terakhir Tungku Haram 3 di Kupang yang berhasil menghipnotis penonton pada Jumat, 27 Juli 2018. Ada banyak kritik terhadap karyanya dan pementasan demi pementasan pun tidak pernah luput dari kritik. Jika dihitung sejak Allah Sudah Mati sampai Tungku Haram 3, maka Yohan Wadu telah naik panggung sebanyak 11 kali. Lebih jauh, apresiasi atas karyanya dan pementasan yang unik dan besar ini bukan hal yang asing, tetapi sepatutnya ada.

Bayangkan, bila Saman Ayu Utami yang sempat fenomenal dianggap epigon gaya menulis Goenawan Mohammad, atau Supernova Dewi Lestari dipandang miring oleh sebagian pembaca sebagai novel copy dan paste dengan nuansa sastra wanginya, begitu juga dengan novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang melampaui rekor Ayat-ayat Cinta dan Saman (Sainul Hermawan, 2009:103), maka Yohan Wadu bukanlah apa-apa. Tetapi, yang tidak ada apa-apanya ini, justru menjadi sangat problematis dan membongkar eksistensi di kalangan para kritikus, seniman pegiat teater, penulis, penikmat seni, dan bahkan ibu rumah tangga, penjual jagung, petani ladang, dan anak-anak-anak di bangku SD dan SMA pun berani mengomentari pementasan Tungku Haram 3.

Kalau mau dibilang secara jujur, banyak yang mengkritik pementasan Tungku Haram sejak pertama kali di Ende (10 November 2017), kedua kali di Labuan Bajo (14 April 2018), dan ketiga kali di Kupang (27 Juli 2018). Kritikan yang datang dari banyak pihak diikuti dengan apresiasi. Kritikan muncul karena seni teater tidak bebas kritik dan apresiasi datang karena sebuah pementasan yang berbeda, unik, dan khas.

Betapa banyak penulis karya sastra dan seniman pegiat teater yang mengabadikan hampir sebagian besar hidupnya untuk kegiatan menulis dan teater: menulis puisi, cerpen, novel, menulis naskah teater dan mementaskannya, bahkan terlibat intens dalam kegiatan diskusi, perlombaan, menjadi juri dari satu kota ke kota lain, diundang untuk membawakan makalah kritik sastra dalam berbagai level. Tetapi, karya mereka di hadapan pembaca pada umumnya jadi biasa-biasa saja. Sementara, ada segelintir penulis dan seniman teater yang belum terdengar namanya, seketika menggemparkan jagad buku dan teater di Indonesia.

Ini fenomena kejutan dalam dunia sastra dan teater Indonesia. Jika J.K. Rowling dengan aliran sastra fantasinya tiba-tiba melejit namanya karena Harry Potter, maka Yohan Wadu bukan siapa-siapa. Beliau adalah seorang imam atau pastor yang berteater dan berhasil ditampar dengan kritikan yang manis serentak pedas. Namun, ini adalah sebuah dinamika berteater yang diinginkan oleh Beliau. Mengapa demikian?

Dalam konteks umat atau masyarakat NTT, pastor yang berteater itu jarang. Kalau Romo Mangun tampak begitu mencintai pinggiran kali Kode dan menulis roman terkenal, maka Yohan Wadu sangat mencintai teater dan berani mementaskan ini dengan membaca berbagai konskuensi yang bakal terjadi. Maka, ketika kritikan datang dari banyak kalangan penikmat teater, seniman pegiat teater, dan bahkan umat atau masyarakat itu sendiri, maka ini merupakan realitas murni yang menampilkan interaksi sosial religius dari altar ke pasar.

Altar ke Pasar: Imam versus Umat Pengkritik

Pastor berhadapan dengan umat pengkritik adalah sebuah ruang perjumpaan yang natural dan tidak bisa disangkal, maka ketika ada banyak kritikan yang mengapresiasi serentak menampilkan umpatan-umpatan, maka dinamika seni dari altar ke pasar membawa dampak edukatif yang besar.

Hemat saya, ini normal karena seni memberikan pesan moral dan membawa misi kemanusiaan yang luas dan tanggung jawab moral yang besar. Apalagi, Kelompok Teater Evergrande Syuradikara memilih anak-anak SMAK Swasta Katolik Syuradikara dan SMK Swasta Katolik Syuradikara sebagai subyek yang memerankan penokohan dalam setiap adegan demi adegan di dalam Tungku Haram ini.

Dalam warna dasar Tungku Haram, para pelakon adalah subyek yang membawa pesan moral mengenai stop bajual orang. Jadi, misi utama dalam teater ini ialah soal mewartakan nilai kemanusiaan yang semakin terkuras di era modernitas dengan meluasnya kapitalisme dan imperialisme yang berhasil merangsang orang untuk mencari keuntungan sendiri (K. Soetoprawiro, 2003:96).

Dalam konteks altar, Kotbah di Bukit karya Kuntowijoyo pun belum cukup untuk menyuarakan sabda Yesus. Di sini, Tungku Haram Yohan Wadu juga bisa dibilang belum cukup pula meneriakkan pesan stop bajual orang. Mengapa? Karena umat itu “kepala batu”. Ini fakta yang umum, sering ada bahasa bahwa umat “kepala batu” dan memang itu benar.

Maka, fakta ini adalah sebuah keprihatinan utama yang muncul dan lahir dalam diri sutradara. Pater Yohan melihat bahwa, di altar dan mimbar, kotbah pastor atau imam harus dibawa ke ruang yang lebih luas dengan banyak aktivitas di dalamnya, sehingga ‘pasar’ adalah ruang yang pas untuk membawa pesan dari altar dan mimbar.

Altar bukan soal Ekaristi yang hanya tidur dalam ritusnya semata, tetapi dibawa keluar. Ruang yang berada di luar ialah ‘pasar’, maka pasar menurut penulis ialah perjumpaan antara pembeli dan penjual dengan seni tawar-menawar atau sistim barter  yang klasik. Namun, tidak ada intensi ‘menjual’ seni untuk mendapatkan barang. Karena, spiritualitas Evergrande lahir dalam ranah pendidikan ekstrakurikuler sekolahnya, bukan dimensi politik untuk uang, massa, dan lain sebagainya.

Hal yang perlu ditegaskan di sini ialah bahwa kegelisahan seorang pastor oleh karena fenomena Human Trafficking di Flores, NTT, dan dalam skala nasional maupun internasional, maka lahirlah naskah berjudul Tungku Haram yang dipentaskan untuk ketiga kali di Kupang. Sehingga, saya menilai bahwa pastor yang berteater adalah berbeda dan unik.

Selain Pater Yohan Wadu, SVD yang berteater, penulis menyinggung pula Romo Ino Koten, Pr. Beliau adalah Romo yang berteater atau pastor yang berteater dengan cara yang sama tetapi konsep atau ide dalam melahirkan naskah itu berbeda. Mengapa? Karena imajinasi masing-masing orang itu berbeda. Tentu saja, imajinasi sungguh-sungguh menjadi semakin mahal dan berbeda ketika dikritik.

Oleh sebab itu, Anda tidak bisa memaksakan bahwa panggung tungku semegah itu harus dibuat dari bambu supaya lebih sederhana. Atau, ketika Anda mengatakan bahwa mengapa tema tentang perdagangan orang, tetapi yang ditampilkan ialah seorang penari dengan gaya rok mini?

Apalah artinya seni teater kalau ia dimengerti secara sempit dalam pola pemikiran “rok mini” saja? Untuk dipahami secara lebih baik, Tungku Haram karya Yohan Wadu adalah model teater musikal yang menampilkan semua cabang seni di dalamnya. Jika Gitapati-nya dinilai tidak etis karena memakai gaun mini, maka kritikus itu sendiri terjebak dalam presepsi sempit tentang bahaya perdagangan orang atau isu penjualan manusia.

Untuk diingat bahwa masalah perdagangan orang adalah semacam teror yang kita ciptakan sendiri. Berawal dari altar, iman sebesar biji sesawi menjadi kerdil ketika bahasa seorang kritikus atau penikmat seni hanya dibatasi pada wilayah ‘rok mini’ saja. Maka, bisa saja terjadi di sini, kita menjual ‘bahasa’ di depan publik, supaya kita dikenal sebagai seorang yang bisa mengomentari.

Ini benar. Anda atau kita tidak disalahkan ketika sebuah pertunjukan dikritik, tetapi menjadi lebih baik jika kritikan itu berjalan dalam arus media yang normal. Facebook juga adalah media sosial online yang inse adalah ruang publik, tetapi ada banyak hal yang tidak baik terjadi di sana, maka seorang kritikus sejati harus menggunakan media yang baik dan benar, supaya pada akhirnya dia disebut sebagai kritikus yang baik.

Penulis melihat ini sebuah efek ‘pasar’ yang di dalamnya ada kecemburuan akademik dan persaingan yang tidak sehat, lalu kita menjual anak-anak kita sendiri dalam bahasa sempit seputar ‘rok mini’ atau seputar presepsi kita yang sempit saja tanpa melihat substansi dari dialog-dialog di dalam tubuh teater itu sendiri. Kita mengkerdilkan pola pikir dalam ruang publik yang dinamakan facebook, lalu mengumpat diri sendiri di depan mata publik yang membaca tanpa melihat betapa anak-anak telah berhasil membawakan pesan nilai kemanusian universal.

Saya menilai, karena ‘umat’ kepala batu, maka pastor atau imam yang berteater tidak akan pernah bosan menghasilkan karya dan mewartakan kepada umat bahwa menghasilkan teater sebesar Tungku Haram atau menulis buku sebagus yang pernah kita baca adalah sebuah ruang yang tak pernah sepi dengan kritikan.

Oleh sebab itu, dari altar ke pasar, “pastor yang berteater” telah mewartakan dosa yang kita buat sendiri (baca: umat) supaya di sana ada rekonsiliasi. Rekonsiliasi ini dimulai dari diri kita sendiri sambil kita belajar bahwa mengkritik dan terus mengkritik adalah hal yang baik. Penulis melihat bahwa banyak ‘kritikus’ muncul tiba-tiba, lalu mati pun tiba-tiba. Setelah itu, ke mana kita mencari kritikus? Di facebook? Di Wattsapp? Atau di mana?*

Diterbitkan di POS KUPANG, Sabtu, 11 Agustus 2018

 

Advertisements

Narasi ULANG TAHUN: Selamat Ulang Tahun Sang Sutradara!


Ulang Tahun memiliki filosofi sendiri. Jika hari lahir atau hari jadi adalah sebuah kebetulan, saya tak mengatakan itu kebetulan. Ketika para filsuf atau orang bijak dan pandai menegaskan demikian, kelahiran bagi saya adalah sebuah narasi besar. Dalam hubungan dengan Ilmu Pengetahuan, narasi ini bersifat filosofis. Post Modernisme Lyotard ialah ketidakpercayaannya terhadap narasi-narasi besar karena klaim universalitas, rasionalitas, dan sentralitas. Lyotard melihat yang ‘negatif’, lalu menempatkan ‘ketidakpercayaannya’ pada narasi seperti itu. Itu karena ia menempatkan ide, konsep, gagasan dalam ‘pola pikir’ suatu kesalahan kolektif. Artinya, ini berpretensi selalu negatif dalam memandang dunia dan semua yang ada di dalamnya.

Dari sini, saya merefleksikan narasi-narasi besar yang tidak dipercayainya dalam rumah pemikiran saya, bahwa saya percaya akan narasi besar ini. Dalam presepsi saya, narasi besar ini ialah ULANG TAHUN. Sikap positif yang saya ambil ialah melihat ini dalam kacamata positif. Ada kebenaran kolektif bahwa narasi ulang tahun sebagai kebetulan, maka memang betul, atau memang benar bahwa ulang tahun itu sebuah kebetulan, yang jika direnda lebih kecil, maka sampailah kita pada kata betul. Betul sama dengan benar, benar sama dengan pasti, dan pasti sama dengan ya, itu betul atau benar. Maka, saya percaya pada ulang tahun sebagai narasi filosofis, dimana di dalamnya saya menempatkan ide, konsep, pemahaman saya secara positif.

Kemarin, tanggal 8 Agustus 2018 adalah ulang tahun mama saya. Saya tidak memberi mama saya sesuatu, hanya puisi kecil di dinding facebook, lalu saya mengubah profil saya dengan foto mama dan bapa saya. Hal pertama yang saya pikirkan ialah saya sudah besar karena ibu dan ayah. Mereka adalah narasi besar yang membuat saya jadi narasi juga. Ibu saya berjualan ikan kering, ayah saya petani merangkap sopir, dan kami anak-anak cuma kerja biasa dan pas-pas saja.  Tapi, saya melihat sesuatu yang besar dari hari jadi ibu itu, yakni ‘kebenaran’ yang bersifat universal, ‘saya punya ibu’. Anda, kita, dan semua juga punya ibu. Tanpa ibu, kita hanyalah dongeng dari negeri antahberanta. Sampai di sini, saya punya ibu yang berulang tahun, maka ibu saya dan ayah adalah dua orang yang benar-benar ada, maka saya pun ada. Kemudian, saya melakukan perjalanan narasi saya terus sampai kepada nenek-moyang, lalu ujungnya berhenti di mulut Allah.

Maka, hari ini, berdekatan dengan tanggal lahir ibu saya, 09 Agustus 2018, saya juga memiliki seorang sahabat sejati. Dia adalah pastor dalam Kongregasi Misi Serikat Sabda Allah. Imam muda yang cerdas, sederhana, dan prinsipil. Saya sudah mendengar namanya waktu saya kuliah filsafat di Maumere, Ledalero. Dalam perjalanan waktu, saya berpapasan muka dengannya pada 2017 yang lalu. Saya juga sudah mendengar tentang siapa dirinya, tapi itu secara luarnya saja. Apalagi, yang saya dengar ialah dari mulut teman dan sahabat-sahabat yang juga pernah mengenalnya. Intinya, semua yang tersampaikan itu menjadi miliknya, dan inilah siapa dia sesungguhnya.

Namanya, Pater Yohan Wadu, SVD. Seorang pastor yang berteater. Imam yang jatuh cinta selamanya pada dunia seni. Imam yang adalah seniman revolusioner yang patut diperhitungkan. Hari ini adalah tanggal lahirnya, dan saya tidak punya apa-apa juga selain menulis di sini. Saya menikmati perjalanan menulis sambil membayangkan sosoknya dalam pengalaman bersama-sama selama ini. Hal yang saya temukan pada hari ini ialah ulang tahunnya merupakan sebuah narasi besar dan benar. Bahwa ini merupakan ulang tahun, atau semacam sebuah cerita tentang kebahagiaan kelahiran, maka Pater Yohan sangat bahagia karena ulang tahun ini menunjukkan satu kebenaran, bukan suatu kebetulan saja.

Saya menegaskan narasi ulang tahun ini sebagai satu revolusi seni dalam diri Pater Yohan. Mengapa? Karena dalam dirinya terdapat ide-ide brilian, konsep-konsep besar, maupun gagasan-gagasan filosofis yang mumpuni. Saya tidak bermaksud memuji, tetapi ini satu kenyataan yang saya alami bersama beliau. Dalam EVERGRANDE, Pater Yohan adalah ide utama, lalu kami CREW adalah seperti pelengkap yang melengkapi Pater dalam berkarya. Satu hal yang saya temukan dalam dirinya ialah soal religiositas yang terpancar dalam dirinya. Iman dan imamatnya membuat beliau seperti yang kita kenal dan tahu. Dan, yang saya tahu dan alami ialah soal kedekatannya dengan sosok Bunda Maria. Segala perkara diserahkan kepada Maria, maka ketika batu besar di depan menghadangnya, ia mampu menggeser batu itu. Itulah IMAN.

Untuk itu, hari ini, narasi ini saya persembahkan kepada Pater Yohan, SVD, Sutradara yang menulis Tungku, dan ia kemudian dikenal dengan Sutradara haram. Itu semua hanyalah label dari narasi sepanjang ia berkarya dalam dunia teater. Dialah seniman yang sejati, sahabat, teman, orang tua, juga kakak yang selalu memberi inspirasi. Terima kasih untuk smeua yang kami peroleh darimu.

Akhirnya, saya menutup narasi ini dengan mengucapkan SELAMAT ULANG TAHUN PATER YOHAN WADU, SVD. Anda membuat saya terjebak dalam narasi yang tiada pernah habis. Inilah narasi Ulang Tahunmu, celotehan sedikit tentang ibuku, juga Maria. Barangkali, ini adalah kata-kata dari Mama dan Bapa di Bajawa, juga kaka Lya, dan semuanya keponakan di Bajawa. Saya hanya menulis ini, supaya kita tetap ingat, bahwa hidup berujung mati, sekali-kali beri arti!

Ende, 09 Agustus 2018

Matinya Si Kritikus (Sebuah Pembacaan atas Kata dan Bahasa Rosna Bernadetha sebagai Penonton Teater Tungku Haram 3)


38084983_2096262560384190_3734637371413495808_n.jpg

Pementasan teater Tungku Haram hari-hari ini menjadi panas. Di Labuan Bajo, setengah ribut. Di Kupang, sangat ribut. Ada yang ribut karena mengomentari perihal pembawa acara, panggung, pelakon, sutradara, crew, dan banyak lagi.

Sebagai crew Evergrande Syuradikara, saya juga merasa sangat bertanggung jawab atas pementasan ini dan ingin menyoroti satu hal yang menurut saya adalah satu bentuk ‘teror’ kecil yang lahir dari presepsi individu atau orang. Teror ini cerdas, tapi bagi saya kurang kritis. Maka, saya memberi judul tulisan ini “Matinya Sang Kritikus”, Pembacaan atas Kata dan Bahasa Rosna Bernadetha sebagai Penonton Tungku Haram 3.

Judul ini muncul dalam benak saya ketika membaca sebuah komentar dari seorang penonton dengan nama Ibu Rosna Bernadetha. Di sini, penonton teater atau penikmat teater selanjutnya saya sebut sebagai seorang kritikus karena ketika kata-kata keluar dari mulut seseorang dengan nada kecewa maupun senang, maka kekecewaan itu berdampak pada kritik dan atau saran. Namun, saya membaca sesuatu dari bahasanya yang sedikit bernada subjektif serentak ‘mengobyekkan’ subjek di dalam kata-kata beserta kalimat yang tertuang di dinding facebook itu.

Sebelum berbicara lebih panjang lagi, saya menulis ini mengatasnamakan diri saya sendiri dengan tujuan sebagai perang argumentasi yang normal. Tidak ada intensi kekerasan verbal di sini, tetapi ingin mencoba cara berpikir cerdas. Entah tulisan ini dikonsumsi oleh publik atau tidak, saya menulis untuk menghidupkan yang mati. Sebagaimana Kelompok Menulis Koran Ledalero menggunakan spiritualitas “Menulis untuk Menghidupkan yang Mati”, maka saya pun demikian.

Bahasa yang Berbisa: Fakta atau Fiksi?

Pertama, saya mengutip sebuah tulisan di dinding facebook yang dengan tegas saya katakan bahwa ini adalah bahasa yang berbisa. Bunyinya:“Tiket nonton Reuni SMAnya orang + tiket nonton tembang kenangan ++ perkenalan para alumni yang jadi wakil rakyat. Coba ko MC yg batasibu undang orang isi lagu ala acara2 di kampung2 kita, tanya itu alumni yg anggota dewan su buat apa untuk lawan HT bae. Akhirnya kami pembayar tiket yg bukan alumni SMA itu disuguhkan Himne SMA itu dan Mars St. Michael. Heran sekali, SMA keren dan segitu terkenalnya sedaratan Flores, bikin pentas seni, Isu melawan Human Trafficking hanya jadi tempelan sa, sekedar tema teater. Ihh Kek apa ko…(son sanggup omong lai)#Tungku yg Haram ko yang kas manyala tungku yang HARAM.

Maka, pertanyaan lanjutan saya tentang sudut pandang kritikus ini ialah soal fakta atau fiksi? Jelas, ini fakta serentak fiksi. Ini menjadi fiksi dalam pandangan saya, karena bahasa seperti ini berada pada puncak ketegangan emosional seolah berada dalam dunia fantasi yang dalam. Alurnya bergerak menuju arus subjektivisme yang kurang data karena hanya melihat sepintas, lalu muncul argumentasi yang perlu saya analisis di sini.

Kedua, ketika penonton merasa kecewa karena pembawa acara kurang kreatif dan tidak seperti yang dibayangkan, maka ini adalah perkara teknis soal susunan acara dalam pementasan Tungku Haram. Tetapi, menjadi soal ketika penonton menyinggung Ikatan Alumni Syuradikara dengan reuninya, tembang kenangannya, dan perkenalan para alumni yang menjadi wakil rakyat. Saya sebagai guru dan crew teater Evergrande yang bukan alumni pun merasa bahwa ini bahasa yang menyedihkan.

Kesedihan ini muncul karena kritikus berada pada posisi jengkel, marah, dan tidak puas. Wajar sekali karena ketidakpuasan ini lahir oleh karena pembawa acara misalnya, tetapi ketika muncul persinggungan tentang IAS, dengan reuninya, tembang kenangannya, dan perkenalan alumni jadi wakil rakyat, lalu mempertanyakan peran mereka soal perlawanan terhadap Human Trafficking dan menyinggung lembaga Syuradikara, maka kritikus seperti ini tidak menyadari bahwa pementasan teater Tungku Haram adalah salah satu bentuk kerja sama IAS dengan EVERGRANDE Syuradikara untuk memerangi perdagangagan orang di NTT. Setidaknya, jika pengkritik yang mengetahui jalur komunikasi yang baik dan benar, maka bahasa dan kata-kata selalu dijaga, objek bahasa dipikirkan, biar kata-kata selalu dihamili sebagaimana Jokpin yang cerdas menghamili kata-kata.

Di sini, dampaknya ialah soal etika dan sopan santun dalam menilai dan mengukur sesuatu. Ketika si kritikus mempertanyakan eksistensi tentang bagaimana alumni yang sudah jadi wakil rakyat membuat sesuatu untuk NTT, maka sudah terjadi di mana-mana tanggung jawab alumni tentang kemanusiaan. Salah satunya ialah melalui pementasan teater bertema Human Trafficking ini karena misi kemanusiaan ini adalah Pogram Renstra SVD untuk dunia. Saya buka alumni, tetapi saya mengetahui kerja keras mereka di mana saja ketika EVERGRANDE keluar kota untuk mementaskan teater ini. Ini bukan pembelaan saya sebagai alumni, tetapi sebagai pegiat teater.

Selanjutnya, saya melihat bahwa kritikus memposisikan diri sebagai seorang yang sudah melakukan sesuatu tentang Perdagangan Orang, dan lalu menyoal tentang perihal uang Rp. 50.000,00 sebagai sumbangsihnya terhadap lembaga pendidikan Syuradikara Ende. Betapa mirisnya, jika Rp. 50.000,00 ini diperdebatkan, padahal pementasan yang berbeda dan unik ini diapresiasi banyak orang dengan decak dan kagum yang kita sendiri melihat dan mengetahui ini.

Lebih dari itu, dengan pementasan sebesar itu, yang telah disaksikan bersama-sama, saya mau menegaskan bahwa pementasan sebesar ini dengan model panggung dan pelakon sebanyak itu, bukanlah kerja yang mudah. EVERGRANDE Syuradikara ini berani mengeluarkan uang hanya untuk menyampaikan pesan kemanusiaan. Persoalan di sini bukan ada pada uang yang dikeluarkan dari dapur EVERGRANDE, melainkan PESAN KEMANUSIAAN itu tersampaikan ke telinga dan hati penonton atau tidak? Kenyataannya, pesan ini tersampaikan dan apresiasi besar datang dari berbagai pihak.

Kedua, posisi kritikus di sini adalah seorang yang tidak puas. Ini benar. Bukan basa-basi lagi, melainkan fakta. Ketidakpuasan ini adalah hal yang biasa. Banyak kali saya menjumpai tipe kritikus seperti ini. Kadang, mereka jawab dulu baru pikir. Sehingga, saya menilai pengkritik mengobyekkan subjek-subjek terntentu di dalam bahasanya, serentak mempertanyakan eksistensi mereka sudah sejauh mana hasil yang dibuat berkaitan dengan isu perdagangan orang? Bagi saya, ini bukan masalah. Tapi, menjadi masalah jika yang diobjekkan itu meminta kita bertanggung jawab atas bahasa kita sendiri.

Karena, ada banyak bentuk kekerasan yang terjadi di NTT, selain perdagangan orang yang penuh dengan kekerasan ini, maka hal lain ialah soal verbalisme. Ketika yang verbal sudah menjadi isme, maka kita bisa berada dalam dua jalur, yakni baik dan buruk. Sehingga, sebagai kritikus, kita perlu berpikir kritis, dan sedapat mungkin berpikir dahulu kemudian bicara seacar tegas dan obyektif. Jika kita melempar kata dan bahasa yang cenderung mengarah kepada subyek, atau pribadi, atau lembaga, maka kita siap bertanggung jawab atas apa yang kita katakan. Jika demikian, hati-hati. karena di dalam Tungku Haram, pada prolog puisi, ada kata hati-hati di sana. Mungkin, kita sebaiknya berhati-hati dalam bicara dan bertingkah laku. Jika tidak hati-hati, kita dihadapkan dengan perang. Dan ini adalah bentuk perang argumentatif yang ramah. Kita tidak boleh tersinggung, tetapi berpikir kritis karena sudah jadi kritikus, ‘kan?

Lalu, bagaimana? Jika Andrea Hirata yang awalnya mengaku tidak punya pengalaman membaca karya sastra, tetapi membaca banyak, dan kemudian menulis tetraloginya yang terkenal seperti Laskar Pelangi, dan lainnya, hingga ketika ditanya apa tanggung jawabnya tentang tulisan seperti itu? Dan, ia bicara seperti yang dia alami, bahwa semua yang ia pikirkan, sebelum diwartakan, ia melalui dengan berpikir keras dan kritis. Karena, salah pikir, bisa berakibat fatal. Dengan kata lain, salah kata, maka mulutmu harimaumu.

Tentu saja, di sini ada efek ‘pencideraan diri di facebook” dari seseorang, dan ia menjerumuskan presepsinya pada ruang “tidak sanggup bicara lagi” karena faktor kematian dimulai dari gejala kaku, sesak, marah-marah, dan pada akhirnya stroke di dinding facebook saja.

Ketika storke, kritikus dengan tipe seperti ini hanya menghambur-hambur bahasa dan tidak tahu cara untuk bertanggung jawab atas bahasanya, maka saya menamakan ini sebagai “matinya sang kritikus”. Mengapa? Karena ia hanya berada pada ruang maya yakni facebook. Jadi, tidak perlu dikomentari. Cukup saya saja yang komentar. Tapi, jika ingin dikomentari lebih jauh, ada banyak media yang pas, selain blog pribadi, ada Pos Kupang, Flores Pos, Floressastra.co, Voxntt.co, Warta Flobamora, dan lainnya.

Ketiga, facebook adalah ruang publik, tetapi alur dan jalur yang kita pakai bisa melalui pintu argumentasi yang seimbang dan tidak berat sebelah, biar enak dibaca dan enak ditanggap. Karena, menurut saya, di facebook, ada jutaan manusia merekayasa jati diri, lalu tenggelam dalam arus saling teror dan berdampak pada terorisme global seperti beberapa peristiwa miris yang terjadi atas nama agama, suku, ras, dan lain sebagainya.

Keempat, ada bahasa tentang #Tungku yg Haram ko yang kas manyala tungku yang HARAM. Nah, ini bahasa metaforis yang butuh analisis lebih dalam. Tungku yang haram atau yang menghidupkan tungku yang haram?

Saya akan menjawabi pernyataan kritikus dalam beberapa poin sebagai berikut. Kesatu, ini berhubungan erat dengan etika situasi sebagai usaha untuk menerjemahkan pokok keyakinan eksistensialisme ke dalam ranah sastra dan filsafat hidup orang timur. Kita, yang menamakan diri sebagai orang timur memiliki filsafat hidup sendiri.

Masing-masing orang pun memiliki ‘eksistensinya’ masing-masing. Sehingga, ketika sang Sutradara, Pater Yohan Wadu, SVD menulis naskah demi naskah sejak Allah Sudah Mati sampai Tungku Haram ini, beliau menempatkan refleksi sebagai sebuah jalan keluar untuk menemukan eksistensinya sebagai pegiat teater yang berbeda. Maka, naskah Tungku Haram ini menjadi sangat mistis karena ada sesuatu yang lain, yang lebih besar dari eksistensinya sebagai manusia, ikut menulis bersamanya.

Kedua, tungku yang haram atau yang menyalakan tungku itu yang haram? Jawabannya ialah dua-duanya. Tungku dibilang haram karena subyek yang menyalakan tungku itu membuatanya jadi haram. Subyek adalah pribadi atau orang dengan latar belakang berbeda, sikap dan sifat berbeda-beda, eksistensinya berbeda, sehingga ketika dalam monolog yang dibawakan oleh perempuan yang ditarik masuk ke dalam tungku (Resty Raya, gadis SMA asal Lembata), di dalamnya ditegaskan bahwa pelakunya bisa siapa-saja, dan korbannya bisa siapa saja.

Ketika pelakunya itu bisa siapa saja, atau “yang menghidupkan tungku itu bisa siapa saja”, maka tungku itu pun dicemari dengan hal-hal yang ‘haram’ atau tidak baik seperti ditegaskan dalam sinopsis Yohan Wadu pada awal teater ini dimulai. Tungku yang sebenarnya adalah lambang hidup dan menjadi filsafat hidup orang timur dan karena batu, maka si pemukul batu bernama Bomby pada akhirnya memancing korban dalam kotak pandora itu untuk berbicara. Kita pun melihat, ketika Elma Liwu meneriakkan bahwa ayo bicaralah, maka perempuan yang terkubur selama bertahun-tahun dalam kotak sebagai simbol kematian itu, mereka berbicara satu per satu, lalu mengatakan bahwa mereka adalah korban.

Untuk itu, mengapa tungku itu yang haram? Tungku menjadi ‘HARAM’ karena faktor pelakunya bisa siapa saja serentak korbannya bisa siapa saja. Dan ini merupakan konteks. Dalam bahasanya Goris Keraf, konteks adalah lingkungan yang dimasuki sebuah kata dan dalam banyak hal, kosa kata diperluas melalui sebuah konteks, baik itu lisan maupun tulisan (Goris Keraf, 2006:67).

Misalnya, Saya bisa membaca; ini berbeda dengan, Saya bisa menelan bisa ular itu. Atau dalam konteks tungku haram ini, saya bisa menegaskan secara kontekstual seperti ini. Tungku haram melaram. Artinya ialah bukan tungku yang melaram, melainkan pelakon teater bersama totalitas crew dengan tim produksi dan artistik yang ada di dalam tubuh teater itu sendiri. Untuk lebih jelasnya, tungku haram menunjukkan lagak atau gayanya. Lebih jelas lagi, para pelakon menunjukkan acting-nya atau berakting. Atau lebih jelasnya lagi, Kelompok Teater Evergrande Syuradikara beraksi.

Selain sebagai konteks, saya mau menegaskan lagi soal bahasa kritikus tersebut di atas: “#Tungku yg Haram…..,” di sini, muncullah gaya bahasa metonimi sebagai proses perubahan makna karena hubungannya yang erat dengan kata-kata yang terlibat dalam lingkungan makna yang sama, dan dapat diklasifikasi menurut tempat dan waktu, menurut hubungan isi dan kulit, menurut hubungan sebab dan akibat.

Contohnya, istana merdeka, maka yang dimaksud adalah Presiden Republik Indonesia. Jadi, dalam konteks ini, ada sebab maka ada akibat. Penyebab tungku haram ialah pelakunya yang bervariasi dan akibat tungku haram ialah korbannya yang juga bisa siapa saja.

Tambahan lagi, untuk mempertegas penjelasan ini, Tungku yang haram adalah satu bentuk penggunaan metaforis dari kata haram yang dituangkan sutradara Pater Yohan Wadu, menjadi tungku haram. Ini diperkuat lagi oleh kritikus pada dinding facebook-nya dengan tungku yang haram. Maka, dalam frasa tungku yang haram adalah suatu ringkasan dari analogi yang berbunyi: tungku ini menjadi tidak baik dengan cara yang sama seperti tungku saya jelek atau buruk. Artinya, ada hubungan antara pemilik tungku dengan caranya memasak sama seperti hubungan saya, dia, kita, kamu mereka dengan beras yang dimasak menjadi nasi tetapi malahan menjadi bubur. Atau, dalam monolog Resty Raya, ada ungkapan Ibu Pertiwi. Ungkapan Ibu Pertiwi mengandung pula analogi yang berarti: hubungan antara Tanah Air dengan rakyatnya sama seperti hubungan seorang ibu dengan anak-anaknya. Tetapi, ibu dalam konteks ini bukan ibu kandung dari si pelakon Resti Raya, tetapi Indonesia sebagai tanah air pusaka yang sedang merintih kesakitan karena di mana-mana kekerasan itu masih mengurat-akar di tanah ini.

Dengan demikian, argumentasi ini setidaknya menjadi satu pembacaan dari saya mengenai kritikus yang mati di dinding facebook-nya sendiri. Kritikus seperti ini, walaupun dia berpendidikan pun, ujung-ujungnya kita bisa dibilang bodoh sekali, karena kita salah melempar kata dan menempatkan kata itu berada pada jalur mana.*

Eto Kwuta, pegiat teater Evergrande Syuradikara Ende.

 

 

Resty Raya, Prolog, dan Monolog dalam Tungku Haram 3


38071876_2096262677050845_7077284601118326784_n.jpg
Pada malam Jumat, 27 Juli 2018 dipentaskan Teater berjudul Tungku Haram 3 di Kupang. Teater arahan Sutradara Pater Yohan Wadu, SVD ini sungguh-sungguh menghipnotis banyak orang di kota Kupang. Saya tidak ingin membahas komentar-komentar lepas di facebook, karena saya bukan seorang kritikus. Di sini, saya ingin bicara soal Resty, prolog, dan monolognya.
Gadis manis asal Lembata ini sekarang duduk di bangku SMAK Syuradikara kelas XI. Anak yang berbakat, pintar, dan cerdas memang. Pertama kali Ia memilih masuk Syuradikara karena mau main teater. Ini fakta, bukan fiksi. Kalau Roky Gerung dikritik habis-habisan soal fakta dan fiksi, Resty dipuji habis-habisan karena ia pintar menyuarakan prolog dan cerdas memainkan monolog.
Jika pada masa Georg Lukacs (1985-1971), setelah menjadi Marxis, dia beranggapan bahwa seorang seniman yang besar adalah mereka yang dapat menangkap dan menciptakan kembali totalitas harmonis kehidupan manusia, maka Resty Raya adalah seorang seniman teater cilik yang secara dialektis membuka prolog dan monolognya dengan berseru: “…..pelakunya bisa siapa saja! Dan korbannya pun bisa siapa saja!” Artinya, prolog dan monolog tersebut adalah titik tolak atau dasar pijak bahwa perdagangan orang bisa dilakukan oleh suami, istri, pacar, pejabat, petani, nelayan, dan siapa saja, dan korbannya jelas juga adalah siapa saja. Sudah sangat jelas bahwa pelakunya bisa siapa saja dan korbannya pun bervariasi.
Resty Raya adalah seniman yang masih duduk di bangku SMA dan mengapa kita tidak membuka mata untuk mengapresiasi Resty atau si pemukul batu bernama Bomby dalam adegan 4 dan 6 dari  Tungku Haram itu? Menjadi sangat jelek dan tidak profesional ketika seorang seniman melayangkan argumentasinya di facebook, tetapi miris ketika dibaca. Ini hal yang mendidik atau tidak? Tanda tanya adalah jawabannya! Mungkin, tanda seru adalah kesimpulannya. Apalagi, titik.
Nah, Resty membiarkan titik-titik itu perlu diisi dengan kritikan-kritikan kita yang sepadan dengan label pegiat teater atau seniman yang melekat dalam diri kita, supaya jangan ada kata ‘haram’ dalam tungku haram. Tapi, kenyataannya ialah bahwa kita membuat Tungku Haram itu semakin haram di dapur kita masing-masing. Apalah artinya saya, kalau saya adalah penulis tetapi tidak mau tahu dalam menulis? Apalah artinya Resty kalau dia menegaskan prolog dalam monolognya dengan sangat jelas tetapi dinilai tidak sepadan karena perihal kekerasan terhadapnya?
Supaya kita menyadari ini, Resty itu ditarik seperti sapi karena di luar sana, perempuan dan anak-anak diperbudak dalam model kapitalisme dan imperialisme modern. Ini bagian dari modenitas dengan cita-cita luhur ialah menaburkan benih kehancuran dalam tubuh umat manusia. Ketika abad ke-20, setelah perang dunia yang memusnahkan banyak alam dan manusia, bahaya nuklir dan bom atom itu, maka Resty Raya dalam Tungku Haram karya Yohan Wadu adalah sebuah spiritualitas yang mencerminkan perlawanan terhadap krisis kemanusiaan modern. Maka, ketika teater ini menjadi unik dan berbeda, di sinilah Resty Raya sudah menampar kita yang menamakan diri sebagai pegiat teater atau seniman.
Kemudian, kita mulai keluar dari dapur kita masing-masing, melihat betapa Resty mengajak kita untuk berbahasa yang normal sebagai kritikus dan bukannya berbahasa yang abnormal sebagai kri-tikus.
Saya pernah disebut kri-tikus karena saya suka omong banyak dan memberi kritik abal-abal. Ada kata tikus-nya buat saya, tetapi saya menerima itu sebagai cara terbaik untuk memulihkan kritik saya. Saya tidak mau terjebak dalam desas-desus di luar yang terbawa masuk sampai ke dalam hati saya. Jika Maria menyimpan perkara dalam hati, maka Evergrande Syuradikara sedang merenungkan nasib ini. Biar ini disebut fatalisme juga bukan masalah bagi Evergrande Syuradikara. Karena, pada intinya Resty dkk. adalah orang-orang yang tahu mengenai isi teater dan siapa saja yang ada di dalamnya.
“Evergrande Syuradikara itu sesuatu sekali,” tegas Resty. Lebih jauh, ia mengatakan bahwa karena sutradara yang dibilang haram itu, maka ia bercita-cita ingin jadi pegiat teater murni dan belajar khusus ilmu perfilman. Resty melanjutkan bahwa karena prolog itu adalah awal yang membuatnya tetap jatuh cinta dengan monolog. Sehingga, ketika ia bermonolog dengan tangisan dan jeritan yang rumit pada ibu pertiwi, maka ada isak dan tangis yang subur terjadi di dalamnya. Ini seperti tamparan soal kesedihan saya sebagai pegiat teater, tetapi tidak tahu menangis karena Resty sudah dahulu menangis di dalam Tungku Haram. Benarkah demikian?
Resty, jangan sombong, ya! Ini baru awal karirmu, tetapi kamu begitu culun, nakal, dan aduhai cantiknya buat siapa saja. Kamu benar-benar keterlaluan dan kita hanyalah orang-orang yang teriris dari belakang. Ah, ini baru benar. Karena begini! Saya baru keluar dari dapur saya dengan membawa model pendewaan ego ala Decartes, maka saya akan berada pada jalur apatis. Saya mengatakan bahwa saya benar saja. Saya berpikir maka saya ada, tetapi belum tentu pikiran saya diterima dengan baik. Lalu, apa benar saya ada?
Ia, saya ada! Ini jawaban Resty yang keras kepala. Maklum, ia masih duduk di bangku SMA, sehingga dari jawabannya ini, kita sebaiknya belajar bahwa kadang ego itu perlu disingkirkan dahulu, tetapi perlu juga kita lihat lebih awal, supaya tidak ada yang haram. Jadi, Resty sekarang ini benar-benar ada karena ia tahu bahwa di ‘pasar’, telah dilemparkan sebuah bola api yang sedang direbut oleh apa yang disebut Sigmund Freud dengan ego itu.
Akhirnya, Resty kembali ke Ende membawa mimpi dan cita-citanya yang telah menjadi nyata, bahwa misi kemanusiaan dan pesan-pesan moral telah diwartakan di kota Karang. Hingga saat ini, Resty masih menonton dari atas panggung Tungku Haram bahwa ada perang tanpa tepi. Kemudian, Yohan Wadu si Sutradara yang dibilang haram itu bersama crew dan anak-anak pelakon pun berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Mereka pun tiba di dapur Evergrande Syuradikara dan melihat betapa di dalam tungku, nama-nama mereka dimasak di dalam periuk yang tersebar ke mana-mana.
Namun, tiba-tiba Resty berteriak lebih keras dalam monolognya yang singkat: “Tungku Haram dan Crew-nya yang haram, kamu bukanlah haram. Kamu adalah permata di tengah hamparan batu karang yang luas”.*

Eto Kwuta, Pegiat Teater Evergrande Syuradikara Ende

Pasar Bola Kaki dan Selera Humor


Sabtu, 31 Juni 2018 adalah hari yang pahit bagi Argentina dan Portugal. Messi dkk. gagal melaju ke babak 8 besar bersama Cristiano Ronaldo dkk. Kedua negara besar ini harus tersingkir dan pulang kampung bersama tim Panser Jerman. Betapa pilu melihat di balik game besar bernama World Cup ada isak tangis para suporter dan fans fanatik sekaligus dramatis. Maka, bola kaki menjadi sebuah pertunjukan yang membawa dampak besar dalam diri setiap fans masing-masing. Messi dan Ronaldo pun menjadi model pemain bintang yang dicintai sekaligus dibenci. Di negaranya, Messi dicintai dan dibanggakan walaupun mereka harus pulang lebih awal di kompitisi ini. Ronaldo apalagi. Ia disanjung sebagai pahlawan negaranya dengan air mata cinta dan kasih sayang. Memang mereka bintang di negaranya saja!

Saya memiliki asumsi sederhana bahwa keduanya dicintai di negaranya karena mereka dimiliki dan menjadi bagian dari rahim negara yang satu dan sama. Seperti sebuah rasa nasionalisme yang unggul dalam diri orang Argentina dan Portugal. Masing-masing menempatkan cinta pada tanah air serentak cinta pada anak kandung mereka. Namun, kita berbeda. Di Indonesia, Messi dan Ronaldo menjadi viral. Umpatan dan lompatan bahasa, sikap, tingkah laku, perilaku, budaya, dan seterusnya menjadi drama di media sosial. Salah satu media yang paling memesona dan menjadi ruang publik paling populer untuk mewartakan Piala Dunia ialah facebook, maka kita lihat betapa facebook bukan lagi menjadi wajah dan buku yang dinikmati dalam proses membaca, menulis, dan merefleksikan kekalahan manusia, tapi ia dijadikan ruang perang. Di sini, perang yang tidak menghasilkan darah, tetapi perang verbal yang tak terbendung, menyakitkan, memprovokasi, merusak, membludak, dan meledak-ledak di kalangan facebookers.

Lalu, pada satu koma, saya bepikir ini benar-benar sebuah ‘kegaduhan’ yang normal, tapi kadang-kadang tidak normal dan tidak bermoral. Mengapa demikian?

Pasar Facebook

Membaca tulisan dan status di facebook di pikiran saya muncul sebuah paradigama lembek soal kecerdasan para pencinta bola. Loyalitas pendukung kedua tim besar ini menjadi mandek karena para fans-nya sendiri memobilisasi faceboker yang satu dan yang lain untuk saling menghujat dan mengumpat. Seperti ada sebuah ruang massa yang besar dan tersistem dalam apa yang disebut sebagai ‘pasar facebook”. Saya menamakan pasar karena di dalamnya ada arus verbalisme tak beraturan. Dengan kata lain, facebookers lebih banyak omong kosong soal bola, ketimbang omong cerdas.

Ada banyak ikon-ikon Messi dan Ronaldo yang diproduksi sebagai barang, mainan, motif hiburan, lelucon yang berujung tawa, humor yang mengelitik dan mengkritik secara subjektif. Tidak ada apresiasi yang wajar dan memberi bobot nilai. Ini adalah produksi pribadi yang menghasilkan pasar ‘bola kaki’ di facebook karena para facebookers menciptakan arus jual dan beli bahasa, gambar, dan simbol-simbol.

Tawar-menawar bukan lagi dengan etika bahasa dan gambar yang mengguggah, tapi mengolok-olok. Olokan yang bermuatan selera beli rendah. Jika saya adalah pembeli yang hendak membeli beras terbaik dengan harga 1 kg=Rp. 8.000,00, tapi karena saya mau cari beras ‘terbaik’, maka saya tawar lagi dengan harga 2.000. Ini tidak mungkin, ‘kan? Bayangkan, sudah harga 8.000 dan terbaik, tapi masih ditawar-tawar! Oleh karena itu, selera pembeli seperti saya adalah rendah. Bisa dibilang hina.

Maka, persis setelah kedua negara ini pulang kampung, ruang facebook menjadi sangat ribut karena penjual dan pembeli pada akhirnya saling bermusuhan. Komunikasi menjadi kacau dan terjadilah ‘pasar’ bola kaki di dunia maya. Gerakan besar yang saya sebut sebagai pasar ini pun menghasilkan selera humor paling buruk. Menjadi lebih baik jika kita menonton Opera Van Java dan tertawa daripada membaca bahasa dan gambar-gambar yang memalukan.

Sampai kapan pun, kita yang menyebut diri pencinta bola atau fans fanatik ini tidak diberitakan di media internasional. Kita sepadan dengan ke-kampung-an kita yang selalu saja berada di dinding facebook kita. Messi dkk bersama Ronaldo dkk. tidak pernah merasa rugi ketika Orang Indonesia menciptakan gerakan ‘putus cinta’ sama Messi dan Cristiano. Mereka tetaplah pahlawan bola kaki yang potensial dan mega-bintang dunia yang harus disegani. Tapi, kita berbeda. Kita tidak masuk dalam kategori ide Aristoteles mengenai WIT sebagai ‘kekurangajaran yang terdidik” dalam selera humor.

Selera humor kita berada dalam argumentasi Decartes, yakni kita terjebak dalam enam model tawa yang mengandung kalem, cinta, benci, nafsu, riang dan sedih. Ini adalah gambaran diri kita yang terbelenggu. Seolah kita lebih baik dari Messi dan Ronaldo.

Maka, dalam model ‘kegaduhan’ ini, pasar adalah nama yang pas untuk kita para pencinta bola kaki. Pasar bola kaki yang menghasilkan perang melawan rasa cinta kita pada pilihan yang kita jatuhkan selama ini.

Menengok ke Spanyol: Apa Selera Humor Kita?

Minggu, 1 Juli 2018 menjadi hari sial buat Spanyol. Di dalamnya, Iniesta dkk. harus ikut pulang bersama Jerman, Argentina, dan Portugal. Spanyol harus tunduk lesu menerima kekalahan adu pinalti. Ketika bola ada di kaki Koke, nasib Spanyol berubah. Hingga, pada kesempatan kedua di kaki Aspas, kemenangan pun ditunda ke 4 tahun ke depan.

Jika negara-negara raksasa ini telah pulan ke kampung, apa selera humor kita buat Iniesta? Mungkinkah seperti Messi dan Cristiano? Jawaban pastinya adalah ya! Karena kita adalah masyarakat kelas bawah. Kita masih menempati egoisme dan fanatisme tak berujung pangkal. Ada kemungkinan, bisa-bisa bom meledal di facebook karena bola kaki. Kapan?

Sekarang, memang sedang berjalan dan terjadi. Ini adalah bom bola kaki. Maka, kegaduhan dan selera humor kita jadi sangat buruk dan jelek. Di mata dunia, kita adalah pencinta pluralitas karena ada Pancasila yang unik. Tapi, di mata Messi, Ronaldo, dan Iniesta, kita hanyalah tukang omong kosong! *

#Rumahremahkatakata
#AdaDalamKata
#Kegaduhan
#Humor
#Basa-basi
#Apresiasi

Foto Eto Kwuta.

Foto Eto Kwuta.

Jerman dan Fatalisme


Ketika orang bicara soal tim Panser, maka nama semisal Ozil, Kross, Boateng, dan lainnya merupakan tulang punggung Jerman. Harapan lolos ada pada pundak mereka. Bertarung untuk menang adalah kunci, tapi apa mau dikata? Tim Panser bermain sangat buruk. Walaupun penguasaan bola milik Jerman, tapu kontrol dan kegeniusan menjadi milik Korea Selatan. Dua kali kalah di babak penyisihan ini membawa satu dampak yang lain. Korea mengubah sejarah “dadakan” yang meretakkan harapan Jerman untuk gugur. Jerman dengan poin sementara 3 tidak bisa berkutik lantaran 2 gol di menit-menit penghabisan adalah simbol kemerdekaan riil orang Korea.

Jerman harus tunduk dan mengakui kenyataan pahit kali ini. Wah, Korea kok bisa mengalahkan Jerman? Jawabannya, ini bola kaki. Bukan bola tangan. Atau bola yang ditingalkan kesepian oleh Neuer kala gol kedua itu menjadi gol paling buruk dalam sejarah Neuer dan Jerman?

Saya merasa fantastis serentak fatalistis. Dalam hati, saya meragukan wakil Asia ini, dan pada akhirnya, mereka menciptakan suaka permainan yang paling menarik dan gila. Kegilaan ada pada spiritualitas yang mereka bangun di tengah lapangan. Ini kegilaan yang menghasilkan kemenangan paling baik di mata dunia. Lalu, di mana Jerman?

Jerman ada pada satu orientasi fatalisme. Rasionalisasi pun tidak mampu memerdekakan tim Panser sebagai tim terkuat saat ini. Mengapa?

Istilah fatalisme tampak pada aura para pemain Jerman yang tidak tampil seperti biasanya. Jerman tampil dengan aura kecemasan dan beban yang rumit. Mereka berada dalam satu gairah putus asa yang tak terbendung. Satu orang putus asa sama dengan semuanya disetir oleh emosi yang sama karena sebagai tim, mereka adalah satu. Maka, dalam arus Rasionalisasi ala Jerman, orientasi fatalisme menjadi sebuah misteri. Seolah kita bicara soal nasib dan takdir yang melampaui akal sehat manusia. Ini bukan problem, tapi misteri. Satu jawaban yang masuk akal untuk melawan kekalahan Jerman adalah misteri. Cukup satu kata saja, jangan banyak bicara.

Kemudian, fatalisme ini membawa saya dalam argumentasi sederhana, bahwa “apa yang terjadi, maka terjadilah!” Ini seperti awal mula langit dan bumi diciptakan hanya dengan kata-kata atau logos. Maka, istilah ‘predestinasi’ adalah lambang kekalahan Jerman saat ini.

Mungkin, kita terlalu tidak memercayai nasib atau takdir, atau orang Jerman dengan rasionalisasi tinggi tidak mau percaya adanya Tuhan semacam Islandia sebagai negara dengan tingkat atheis mencapai 100 persen di dunia. Kita tetap berada di batas yang dibatasi oleh ruang dan waktu. Ketika kita berusaha untuk menjadi lebih dan lebih, yang tak terbatas itu semakin besar dan tinggi. Apakah bukan karena predestinasi?

Jika saya percaya hidup sesudah kematian, maka saya percaya karena itu pilihan saya. Tapi, tim Panser tidak menunjukkan ini. Yang muncul dalam alur permainan tadi hanyalah sebuah ketidakpastian dan ketidakyakinan yang biasa mereka tampilkan di tengah lapangan hijau. Mereka tampil tidak percaya diri dan seperti boneka dengan wajah ketakutan dan atau kesakitan yang panjang. Saya melihat sambil mengamati, pada ujung waktu di babak kedua, ketika sudah 2 nol dikemas oleh Korea, mereka tampil seperti diri mereka yang sesungguhnya. Tapi, sudah terlambat!

Jadi, Jerman saat ini harus pulang karena mereka pantas untuk pulang. Ini soal predestinasi, bukan soal rasionalisasi yang berlebihan karena kehebatan mereka sebagai juara. Bukan. Ini adalah soal bagaimana cara kita mengatur dan mengolah keyakinan kita. Maka, ketika Korea tampil dengan keyakinan penuh untuk menang, betapa ini menjadi satu cerita sejarah yang paling pedis di mata dunia.

Maka, di akhir tulisan ini, saya bertanya: “Mengapa Jerman tidak menulis sejarah seperti Argentina?”*

#Rumahremahkatakata
#Jermankalah
#Koreamenang
#Bacabasabasi

Foto Eto Kwuta.

Dialektika Bola: Messi vs Cristiano Ronaldo


Piala Dunia 2018 kali ini menjadi ruang bagi pencinta, penikmat, pemerhati, pemain, dan siapa saja yang suka bola. Ruang untuk menempatkan diri dan seluruh harapan terhadap negara-negara kesayangan. Saya sendiri menjatuhkan pilihan saya untuk Brazil. Tapi, saya suka tim Samba ini dan menempatkan semua logika bola kaki dalam kepala saya. Saya pakai otak untuk jatuh cinta dengan Brazil. Saya berpikir, jangan-jangan Neymar bakal sama dengan Messi. Ini cuma kemungkinan.

Nah, ada yang paling menarik dan sedang melanda Argentina dan Portugal saat ini. Messi gagal mengeksekusi pinalti. Kemudian, Ronaldo disoraki di mana-mana, bahkan di kampung-kampung di Indonesia, Ronaldo disoraki pakai petasan kala Portugal menahan Spanyol dengan score 3-3. Betapa geniusnya Ronaldo melesatkan tendangan pisang dan menampar jala De Gea. Ia kaget. Matanya telat menelusuri bola yang begitu indah.

Ya, Ronaldo beda dengan Messi. Dari posisi Ronaldo berdiri, ia seperti seorang serdadu yang siap menembakkan peluru tunggal dengan penuh harap dan doa yang tak biasa. Peluru untuk melumpuhkan. Peluru bola untuk mematahkan. Dan, itu terjadi. Lihat, Ronaldo masih disoraki dan dibanggakan di mana-mana. Lalu, ke mana Messi?

Messi saat ini sedang berada dalam disposisi batin dan kesedihan yang tak berujung. Messi menjadi pembicaraan hangat di twitter dan medsos yang mewartakan ‘kekalahan’ Messi yang terburuk di Piala Dunia 2018.

Keduanya sama-sama bintang dengan prestasi berbeda. Kadang, Messi diunggulkan dari Ronaldo. Dan, sebaliknya. Lalu, ada apa sehingga hal tak terduga dan kebodohan dan kepintaran terjadi di lapangan bola? Messi dibilang bodoh, dan Ronaldo disebut sebagai genius man.

Messi versus Ronaldo

Messi versus Ronaldo adalah komunikasi dua arah. Artinya, ada dialog yang selalu berlesatan ketika kedua bintang ini berada di tengah lapangan hijau. Maka, muncul juga Pantha Rei ala Yunani kuno, “segala sesuatu berubah”. Dan hal yang berubah itu terletak pada waktu, pertentangan, timbal-balik, dan seluk-beluk atau pertalian antara keduanya.

Tan Malaka menerjemahkan dialektika seperti di atas. Ada waktu, pertentangan, timbal-balik, dan seluk-beluk. Nah, ini benar-benar menegaskan status Messi dan Ronaldo saat ini. Namun, saya membaca ada hal yang berubah soal waktu. Ketika Ronaldo mengeksekusi tendangan bebas, Portugal dalam posisi tertinggal. Maka, seluk-beluk ketertinggalan ini adalah sebuah kegelisahan dalam diri sang kapten. Maka, ketika ia berdiri seperti serdadu, celana sedikit terangkat ke atas paha, matanya tajam menatap ke gawang De Gea, dan sesekali ia menutup mata lalu membuka perlahan, saat itu posisi ‘tempus’ atau waktu bekerja. “Waktu sekarang adalah sekarang. Sekali saja dan sesudah itu menang. Veni, Vidi, Vici menjadi fakta yang mujarab. Cerita Ronaldo mematahkan haraoan kemenangan Spanyol menjadi sebuah tragedi”. Ini doa seorang Ronaldo. Doa yang persis berada di tengah situasi batas. Filsafat Jaspers tentang situasi batas ini mendongkrak ketidakmungkinan dalam diri sang kapten. Ia berhasil. Ia menang.

Ini porsi yang diberikan oleh Ronaldo. Porsi waktu dan peluang di ujung tanduk. Peluang yang tidak disia-siakan.

Messi berbeda. Argentina berada pada posisi seimbang dengan Izlandia. Ada kesejajaran dan keseimbangan mentalitas. Ada peluang untuk merasa nyaman. Mungkin juga, ada tendensi beban yang sama dengan Ronaldo. Tapi, ini berbeda. Soal waktu, Messi dan Argentina masih melihat waktu yang panjang untuk tiba pada akhir babak kedua. Waktu untuk menang masih panjang. Waktu untuk tidak buat kesalahan masih banyak, waktu untuk unggul masih ada. Dan, terjadi di sana. Ia gagal melumpuhkan keeper Izlandia. Sama dengan sebuah kekonyolan yang natural. Ini pasti. Bukan mungkin lagi. Pemain sebagus Messi, ia bukan Yesus, walaupun dengan alias mesias.

Bayangkan, Yesus di atas salib saja Dia masih berseru dan merasa ditinggalkan oleh Bapa. Maka, posisi Messi, sang Mesias ini, adalah sebuah loyalitas yang patut dipuji. Kemanusiaan menjadi tampak arkais dalam diri Messi. Ia bukan Mesias atau Yesus. Ia juga bukan Ronaldo. Ia adalah dirinya sendiri.

Tetapi, kala kedua bintang ini bersama di lapangan hijau, mereka adalah alasan kenapa di negaranya, keduanya sama-sama kapten. Itu karena mereka pantas disebut bintang. Ronaldo membintangi #portugal di Piala Dunia dan Messi membantingi #Argentina dengan satu alasan sederhana: “gagal”.

Apakah kita harus marah? Saya berani jamin, Messi akan menjadi yang terbaik untuk Argentina dan Ronaldo, pada satu titik di dalam pertandingan ini, belum sepenuhnya merasa ‘menang’.

Messi dan Ronaldo adalah seluk-beluk yang menghasilkan pertalian indah dalam Piala Dunai kali ini. Ini adalah dialektika, sebuah dialog yang revolutif. Semacam mesin komunikasi yang ada dan hidup dalam tubuh negara Argentina dan Portugal.*

Foto Eto Kwuta.

Filosofi Penjual Jagung Bakar


Di pantai Jimbaran, Bali, malam ini seperti semut yang berebut madu. Banyak orang, banyak kepala. Banyak mata, banyak cerita.

Ketika tiba, pesona pantai ini hanya ditumbuhi kegaduahan. Orang Korea bicara bahasanya. Orang Inggris omong bahasanya. Orang Bali juga bicara bahasanya. Semua orang di sana bicara banyak. Jadi, bayangkan, ketika banyak mulut, maka ada banyak kata-kata. Sejatinya, kata-kata itu ada pada seorang yang menempatkan gerobaknya di bibir pantai. Dia, seorang penjual jagung bakar. Dalam gerobak putih, di atasnya ada lampu kecil, di dalamnya ada banyak jagung muda yang disiapkannya. Di depannya, ada perapian yang dipakainya untuk membakar jagungnya.

Saya tertarik. Lalu, dia menarik saya untuk bagi cerita.
“Berapa harga jagungnya, mas?”
“Sepuluh Rupiah, Pa!”
“Wah, lumayan mahal, ya?”
“Waktu aku beli juga mahal, Pa?”
“Oh, berapa?”
“Sepuluh Ribu!”
“Mana kamu bisa untung kalau jualan model begitu, Mas?”
“Kamu sudah tahu saya tidak untung, kok bilang mahal??”

Saya merasa malu. Malunya saya macam orang Bali. Kemaluan yang paling dalam. Mengapa? Karena saat saya bilang mahal, dia bilang malu. Dia malu karena baru pertama kali sejak pagi, saya adalah orang pertama yang buat tawar-menawar yang menurutnya sangat langkah.

Tapi, ada hal yang paling menarik perhatian saya. Dia asli Bali. Ini adalah model kesederhanaan orang Bali. Mereka menjual dari hasil kebun mereka dengan harga yang membuat orang malu. Ini filosofi hidup. ‘Kemaluan’ si penjual jagung mampu meruntuhkan sejuta rasa cinta untuk mengambil bagian dalam keadaan beliau. Ia mampu mengetuk hati siapa saja untuk membeli.

Ini motif ekonomi yang cerdas. Filosofinya sederhana, kalau mau jualan jagung, juallah jagungnya. Dengan kata lain, Anda harus benar-benar menjual jagung, dengan semua konsekuensi yang didapat. Konsekuensi untuk tidak merasa malu dengan gerobak, jagung, dan diri kita sendiri karena segala sesuatu akan indah pada waktunya.

Ini transformasi kesetiaan melawan kemaluan yang semakin subur di Bali. Sekarang ini, budayakanlah rasa malu untuk menang, bukan malu untuk uang.

Uang hanyalah satu alat membayar rasa malu kita saat kita bekerja dengan hati dan penuh hati-hati.*Filosofi Penjual Jagung Bakar

Foto Eto Kwuta.

Orang Bali dan Logika Masa Depan


Bali adalah sebuah akses masa depan yang fenomenal. Gejala-gejala modernitas menjadi ukuran yang dipakai bahkan dipelihara dengan sangat baik. Ilmu humaniora dan sosial menjadi nilai-nilai masa depan. Refleksi atasnya berjalan dalam karya dan karsa yang mendominasi secara universal dalam semua bidang kehidupan mereka.

Orang Bali itu maju karena mereka malu dengan ‘ketertinggalan’ yang bodoh atau konyol. Mereka ramah karena jati diri mereka ditempatkan dalam adanya mereka yang sederhana tetapi kaya.

Sedikit cerita, waktu tiba di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, saya berdoa untuk melawan kekonyolan saya. Saya baru pertama kali tiba di Bali, jadi maklumlah kalau ada hal konyol yang merusak rasa percaya diri saya. Nah, ini tidak perlu, tetapi sebuah alasan kekonyolan ini membangkitkan rasa percaya diri untuk melihat dengan jeli apa yang sebenarnya dimiliki oleh orang Bali. Tentu, yang sebenarnya menurut saya adalah implementasi nilai futurisme yang tumbuh dalam setiap pribadi yang tinggal di pulau dengan julukan Dewata ini.

Asli. Saya terjebak dalam rasa kagum yang berat. Jatuh cinta dengan karya-karya genius para seniman sejati yang jarang muncul di televisi, tetapi karya mereka dipajangkan di mana-mana. Semacam ada kolaborasi mistis-kultural yang apik dibangun dalam tatanan kehidupan sosial orang Bali. Di sini, saya merasa kalah. Tapi, saat kita berkaca pada kemungkinan, bahwa orang Bali mungkin terjebak dalam keterampilan yang penuh dengan kalkulasi matematis, hanya untuk menumbuhkan dan menambahkan semacam ‘diferensiasi’ atau pengakuan yang perlu dan tidak perlu.

Tapi, untuk apa orang Bali berkarya jika tanpa adanya pengakuan? Satu jawaban yang belum tentu bagi kamu benar adanya ialah futurisme. Ilmu masa depan ini adalah patokan fenomenal yang dipelihara secara baik. Kualitas Orang Bali di mata dunia memang tidak diragukan lagi. Kegeniusan modern dipakai untuk menerjemahkan norma, perilaku, dan praktik sosial budaya diatur dalam satu harmonisasi nilai. Dan, nilai ini ialah homonisasi dan humanisasi yang setidaknya dalam porsi ide kreatif Romo Mangun adalah perlu dan diperlukan pada masa ini.

Bali ini seolah menarik kita untuk masuk dalam logika Eropa Pasca abad Pertengahan. Namun, ini buka abad itu. Ini adalah abad “di antara”. Di antara artinya ada sesuatu yang di tengah. Ada formulasi ke pusat, bukan ke kiri atau kanan. Segala sesuatu yang berhasil bagi orang Bali selalu kembali kepada yang ter-pusat. Dan, ini adalah dialektika komunikasi yang harmonis. Horisontal dan fertikal berjalan seimbang. Tapi, saya meragukan posisi ini. Benarkah orang Bali membangun jiwa masa depan atau sekarang ini dengan menggunakan relasi keseimbangan tersebut?

Dalam perjalanan ke Kintamani, pemandu menjelaskan banyak hal mengenai Bali dan orang Bali itu sendiri. Kami menangguk. Ada yang lupa menutup mulut, gara-gara sabda yang diwartakan si pemandu itu berhubungan dengan yang baik semata. Posisi ini benar. Yang baik adalah sebuah situasi, kondisi, fakta, pengalaman, dan lebih lagi soal Wujud Tertinggi.

Foto Eto Kwuta.

Maka, ketika bahasa si pemandu menegaskan yang baik, maka saya dan teman-teman menyimpulkan bahwa semua yang baik itu terjadi, karena ada satu elemen yang baik, yang ada, yang tak berujung-pangkal, yang metafisis, dan yang tunggal, adalah Tuhan. Pertanyaannya, mengapa Tuhan?

Tuhan dan Masa Depan

Jika bukan Tuhan, apa artinya masa depan? Masa depan hanya satu point yang lumpuh, lapuk, tak ada faedahnya kalau bukan Tuhan yang mengatur dan mengukur segala kemungkinan yang telah ada dan dijadikan. Manusia hanya sebatas menciptakan dari ada, sedangkan Tuhan menciptakan dari yang tiada. Benarkah?

Ini adalah perkara filsafat yang kadang membutakan mesin pemikiran manusia. Kadang ide dijadikan patokan segala sesuatu. Semacam Cogito Ergo Sum ala Decartes, sehingga egoisme muncul dan menjadi sangat terpusat. Ada egosentris yang buta, sehingga kadang-kadang manusia lupa dirinya sendiri.

Maka, orang Bali di sini, pada umumnya pandai menghidupkan harmonisasi universal. Semua yang tidak kita pikirkan sudah dipikirkan oleh mereka dan telah diciotakan dalam bentuk karya dan karsa. Nah, lalu kita mau buat apa lagi? Plagiasi? Atau, manipulasi?

Jika kita menempuh alur plagiasi, maka manipulasi akan masuk ke dalam dan tercebur dalam dinamika proses to be dan to have. Akan jadi lebih baik, jika kita belajar memikirkan yang lain, sambil belajar dari mereka tentang creator dan to create. Tujuannya ialah supaya kita mengembangkan futurisme sambil menciptakan yang baru dan yang khas, lebih berbeda atau lain, selain yang sudah ada dan diciptakan ini.*

Memburu Waktu


Bandara Ngurah Rai hari ini, pukul 12.28, sesak berdesak-desakkan. Kami sudah selesai cek-cekkan, sambil ke smoking area. Beberapa teman-teman menunggu di gate 6, sementara kami buru-buru cari tempat untuk merokok. Antara menunggu pesawat dan menunggu sambil merokok benar-benar terkondisikan dalam waktu.

Waktu menjadi sangat penting. Filsuf Agustinus pada abad pertengahan Eropa telah merilis waktu objektif dan subjektif. Keduanya sama-sama waktu tetapi berbeda dalam logikanya. Waktu subjektif adalah waktu yang terasa dalam hati kita. Ada muatan fragmen-fragmen perasaan batiniah yang spontan mengalir dalam batin manusia. Lalu, waktu objektif menuntut kita melihat jam di dinding, atau jam tangan.

Foto Eto Kwuta.

Keduanya berjalan dengan logika yang berbeda. Pada masa abad pertengahan, waktu subjektif disingkirkan. Lalu, semua ide didesak untuk melihat waktu objektif. Waktu ini sangat mandiri, sangat sendirian, dan objektif, lalu diobjekkan. Hal ini membuat Kant mengkritik secara tegas bahwa, waktu tetaplah ruang dalam pikiran manusia. Sehingga, pada saat ini, memburu waktu tetaplah sebuah ruang tunggu yang sama-sama subjektif serentak objektif. Ini adalah filsafat waktu yang sejati dalam dinamika hidup manusia.

Sambil memburu, ada desakan dalam hati supaya jangan berlama-lama, tetapi seiring juga kita menengok jam tangan, kapan waktuku, atau kapan waktumu. Ini sangat mendesak tetapi menjadi sebuah kalkulasi waktu yang normal. Kita menuntut supaya cepat dan tepat waktu, tetapi kadang kita merasa nyaman dengan keterlambatan. Apa kita mempersalahkan waktu?

Logika waktu subjektif dan objektif ini berdampak pada orientasi psikologis yang cenderung membuat kita tertahan dalam sebuah arus besar yang dinamakan “kekalahan dalam waktu”. Kita tertahan pada batas ruangnya sambil berharap.*