Pendefinisian Sastra NTT (Sebuah Jawaban Diskusi atas Opini Hans Ebang)


Oleh Eto Kwuta

Flores Pos edisi Kamis, 10 Maret 2016 menurunkan opini Hans Ebang berjudul Pendefinisian Sastra NTT, Mendiskusikan Konsep Sastra NTT Versi Yohanes Sehandi. Sejauh penemuan saya, Hans Ebang menyoal realitas intrinsik dan ekstrinsik sastra NTT terkini. Beliau mengungkapkan pendefinisian sastra NTT versi Sehandi sebagai yang “pincang”, serentak menyuguhkan dua poin penting soal pertalian waktu (history) dari sastra lisan dan sejauh mana sastra dari luar memengaruhi sastra NTT.

Saya pun menemukan dalam pembacaan ini bahwa kedua poin ini sama-sama penting dan sebenarnyainse termaktub dalam pendefinisian versi Sehandi. Pertalian keduanya mendorong Hans Ebang menemukan semacam “ketidaktelitian” Sehandi mengenai patokan, acuan dan definisi. Saya menyebut “ketidaktelitian” karena Hans menemukan kepincangan di dalamnya. Itu berarti ada yang mesti diperbaiki atau yang belum beres perihal kondisi dan keadaannya perlu diperhatikan dan diperbaiki.

Di akhir opini, Hans memberi masukan soal pendefinisian sastra NTT dengan menambahkan kata “modern” dan menyampaikan persoalan “tentang/latar NTT” untuk didiskusikan lebih lanjut. Hemat saya, bukan sebuah kesalahan apabila kata “modern” ditempatkan di belakang sastra NTT, menjadi “sastra NTT modern”, asalkan memiliki pendefinisian yang jelas, padat, dan akurat. Untuk itu, saya masuk pada soal pendefinisian guna menjawab tawaran Hans Ebang mengenai diskusi perihal “tentang/latar NTT” dan selanjutnya menarik benang merah dari tulisan ini.

Pertama, persoalan “tentang/latar NTT” sebenarnya sudah jelas karena merujuk pada sastra warna daerah NTT atau yang berkaitan dengan lokalitas (budaya dan tradisi lisan NTT). Mengenai ini, Sehandi sudah menulis dalam buku kedua berjudul “Sastra Indonesia Warna Daerah NTT”, masih dengan penerbit Universitas Sanata Dharma, prolog ditulis oleh Dr. Marsel Robot (Ketua Progam Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Univeritas Nusa Cendana), dan Yosep Yapi Taum (editor).

Di dalam buku ini, Sehandi menulis bahwa sastra NTT merupakan sastra Indonesia warna daerah (lokal), menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana pengungkapannya (bdk. Sehandi, 2015).

Ini berarti persoalan “tentang/latar NTT” sudah tampak jelas, sehingga bisa dikatakan bahwa lahan intrinsik sastra selalu menjadi garapan para sastrawan NTT (diambil dari dalam warna kedaerahan itu sendiri). Warna kedaerahan ini beragam yang mencakupi bahasa, keberagaman suku, seni-seni budaya, dan lain-lain.

Hans Ebang

Lebih jauh, lahan intrinsik sastra, hemat saya merupakan sastra NTT jalur pertama yang diangkat sebagai bahan sastra, kemudian ditulis secara sastrawi, dan menjadi karya-karya yang bermuatan nilai-nilai kedaerahan atau lokalitas.

Dengan berkaca pada pandangan Mursal Esten yang menyebut sastra warna daerah sebagai “sastra Indonesia jalur kedua” (bdk. Sehandi, 2015), maka saya menyebut persoalan “tentang/latar NTT” sebagai locusatau lahan pertama yang menjadi objek kajian sastra NTT.

Artinya, semua tradisi lisan, ritus dan sistem kepercayaan masyarakat mendapat tempat dalam karya yang dihasilkan oleh orang NTT dan inse mendapat pendefinisian pula sebagai sastra NTT. Hanya saja fokus penelitian Sehandi lebih kepada sastra modern saat ini sehingga muncul konsep sastra NTT tanpa menambahkan kata “modern”. Namun, Sehandi sudah menyederhanakan pendefinisian ini dengan menyebut Sastra Indonesia Warna Daerah NTT atau selanjutnya disebut sebagai sastra NTT.

Pendefinisian Sehandi ini bertolak dari pandangan Jakob Soemardjo, Mursal Esten, dan Budi Darma (ibid). Sehandi merumuskan sastra Indonesia warna daerah NTT sebagai karya sastra yang ditulis dalam Bahasa Indonesia, mengandung kultur lokal dan karakter kedaerahan khas NTT seperti tema, aspirasi, amanat, latar, ketokohan, dan lainnya. Di sini, karakter kedaerahan ini mesti bersifat khas NTT. Ini berarti ada muatan warna kedaerahan, misalnya, novel Mata Liku (2014) dan Ndaina (2014) ditulis oleh sastrawan Kristo Ngasi dengan latar Sumba; dan masih banyak lagi.

Kedua, sastra yang dihasilkan oleh orang NTT. Sejauh saya membaca buku terbaru Sehandi yang dikirim pada pertengahan Januari  2016, ide Sehandi tersebut bertolak dari perintis sastra NTT, Gerson Poyk. Beliaulah yang pertama kali menulis dan mempublikasikan karya sastranya kepada masyarakat umum dengan menggunakan sarana Bahasa Indonesia tahun 1961, tiga tahun setelah Provinsi NTT terbentuk tahun 1958. Tentu saja, ide ini berangkat dari penemuan data-data valid, bukan manipulasi, dan berangkat dari sejarah.

Di sini, pendefinisian sastra NTT versi Sehandi bukan tanpa dasar. Beliau memiliki acuan yang jelas bahwa sastra NTT dimulai sejak tahun 1961 sampai sekarang. Artinya, Sehandi sudah merampung mengenai sastra NTT bertolak dari publikasi cerpen Gerson Poyk.

Saya pun berasumsi bahwa pendefinisian versi Sehandi cukup memuaskan karena saya masih melihat unsur intrinsik sastra kedaerahan (lokalitas) dimasukkan dalam konsep sastra NTT. Perlu diketahui bahwa unsur intrinsik sastra atau lokalitas itu bersifat universal, maka berbicara soal lokalitas berarti tidak terlepas dari tadisi lisan sebagi sastra pertama.

Namun, tradisi lisan memiliki cakupan panjang-lebar seperti cerita rakyat, mitos, legenda, dan nyanyian rakyat yang mengandung pesan-pesan moral masing-masing; sehingga studi mengenai sastra lisan bisa dilakukan dengan pendekatan-pendekatan para ilmuwan, misalnya, mitos cerita Raja Siramuduk dan Marga Langobelen (cerita dari desa Lamawara, Kabupaten Lembata) dikaji dengan pendekatan Levi Strauss oleh mahasiswa STFK Ledalero, Maumere (2015). Oleh sebab itu, pendefinisian sastra NTT versi Sehandi sudah menyentuh warna kedaerahan, terlepas dari sastra lisan.

Selanjutnya, saya sangat mengapresiasi Hans Ebang yang menarik kita kembali ke akar tradisi lisan, ritus dan sistem religi tersebut serentak melihat hal yang menguak saat ini, yakni berkenaan dengan pengaruh dari luar kedaerahan. Dinamika ini menyata dalam diri sastrawan di mana mendapat pengaruh dari tokoh-tokoh tertentu, entah itu dari luar Indonesia maupun di Indonesia sendiri. Maka, saya menilai secara wajar kalau Hans menambah kata “modern” di belakang sastra NTT, tetapi mesti diikuti pendefinisian yang jelas dan bukan pendefinisian mirip sebagaimana ditulis Sehandi.

Hal ini membuka pikiran saya bahwa apabila Sehandi membuat pendefinisian dari awal sebagai sastra NTT modern, maka saya yakin pendefinisian sastra NTT versi Sehandi pasti memasukkan juga kata “modern” di dalam pendefinisian tersebut. Akan tetapi, Sehandi menggunakan sastra NTT yang berarti sastra tentang/latar NTT, dihasilkan orang NTT, dan menggunakan bahasa Indonesia.

Ketiga, sastra yang menggunakan media Bahasa Indonesia. Pendefinisian ini hendak menegaskan bahwa sastra NTT (yang menyentil lokalitas) ditulis dengan menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu orang Indonesia. Tujuannya, publik mengerti dan memahami, kemudian mendalami dinamika kesusastraan warna lokal tersebut. Di sini, saya menjawab pertanyaan sejauh mana sastra NTT mendapat pengaruh dari luar?

Sastra NTT mendapat pengaruh dari luar saat masyarakat NTT sudah belajar Bahasa Indonesia, mengerti Bahasa Indonesia, dan mampu berbicara atau berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Indonesia maupun bahasa-bahasa asing. Saya justru mengapresiasi Hans Ebang terkait dua poin penting yang ditawarkan beliau karena kita bisa mendefinisikan sastra NTT dengan memasukkan dua poin ala Hans Ebang tersebut.

Yohanes Sehandi

Lebih lanjut, tidak terlepas dari tiga pokok pendefinisian Sastra NTT versi Sehandi ini, saya melihat secara gamblang bahwa “bahasa daerah tidak dimengerti oleh semua orang, sedangkan Bahasa Indonesia dimengerti oleh semua orang Indonesia”, maka gebrakan awal dibuat Gerson Poyk dengan menulis cerpen berjudul “Mutiara di Tengah Sawah” dimuat dalam majalah Sastra(edisi tahun I, Nomor 6, Oktober 1961) dan termasuk cerpen terbaik pada tahun itu (bdk. Sehandi, 2015).

Tentu saja jawaban ini belum pas dan bisa didiskusikan lagi, namun, dengan mengacu pada pengalaman Sastrawan Indonesia W.S. Rendara. Beliau adalah penyair terbesar periode 1950-an yang sangat mengagumi penyair asal Spanyol, Frederico Gracia Lorca. Ada 3 jenis puisi Rendra, yaitu puisi romantik yang memiliki ciri  kembali ke alam (ditulis tahun 1950-1960), puisi protes sosial (Blues untuk Bonnie, 1971; Potret Pembangunan dalam Puisi, 1978; dan Orang-Orang Rangkasbitung, 1996) serta puisi-puisi renungan hidup (Disebabkan karena Angin) (Bdk. Herman J. Waluyo, 2002). Dengan kemampuan berbahasa Indonesia dan berbahasa asing, Rendra membaca karya-karya Lorca dan mempelajari itu sambil menulis puisi.

Hemat saya, pengaruh sastra dari luar NTT maupun mancanegara sudah termasuk dalam pendefinisian sastra NTT versi Sehandi karena pendefinisian tersebut merujuk pada tema umum berupa Sastra dan NTT sebagai pemilik sastra tersebut. Dan sudah jelas, Sehandi menyertakan contoh yang disajikan dalam buku-buku hasil penelitian beliau yang sudah beredar di pelbagai tempat di level lokal dan nasional.

Untuk diketahui, pendefinisian selalu merujuk pada proses, cara, dan aktivitas, maka untuk memperjelas pendefinisian tersebut, sedapat-dapatnya diberikan contoh bahwa ada proses, cara dan aktivitas yang sudah dan sedang berjalan. Tidak mengherankan kalau Sehandi sudah menunjukkan bahwa sastra NTT bergerak dari ketiga poin ini.

Untuk itu, pendefinisian Sastra NTT tidak ditulis begitu saja, tetapi ada patokan maupun sistem acuan yang jelas. Yohanes Sehandi justru merunut pada data-data valid, mengolahnya, dan memperkenalkan pendefinisian sastra NTT sebagai sastra tentang NTT, ditulis oleh orang NTT, dan menggunakan Bahasa Indonesia yang baku. Dengan demikian, pendefinisian sastra NTT versi Sehandi sudah merampung perihal “tentang” atau “latar” sebuah karya tanpa mengabaikan unsur intrinsik sastra.

Begitu juga dengan unsur ekstrinsik sastra yang selalu bergerak dalam proses belajar seperti membaca dan menulis, sebagaimana Rendra mengagumi Lorca, atau Monika R. Arundhati yang mengagumi Arundhati Roy, seorang novelis dan aktivis India di tahun 1997 yang memenangkan Booker Priz.

Buku Sastra

Dengan demikian, pendefinisian sastra NTT versi Sehandi adalah juga merupakan sastra NTT (modern) dengan latar NTT, ditulis oleh orang NTT, dan menggunakan Bahasa Indonesia sebagai sarana pengungkapannya.

Dengan berkaca pada dua poin yang ditawarkan Hans Ebang, maka saya menegaskan bahwa sastra NTT selalu kembali ke akar budaya, tradisi lisan dan tulis, ritus dan kepercayaan dan mendapat pengaruh dari luar NTT dan ini merupakan dinamika. Hanya saja pendekatan yang dipakai ilmuwan selalu berbeda-beda. Sehandi menelaah sastra tulis dengan tidak melepas-pisahkan unsur intrinsik dan ekstrinstik sastra. Di sini, pendefinisian sastra NTT versi Sehandi sudah tampak jelas. Namun, secara temporal bisa digugat karena sastra bersifat bebas tafsir dan ada banyak kemungkinan bahasa yang bisa melengkapi pendefinisian sastra NTT untuk memperkaya sastra NTT dari waktu ke waktu.*** (Flores Pos, Selasa, 15 Maret 2016)

Advertisements

Puisi-Puisi Eto Kwuta (Pos Kupang, 19 Mei 2016)


Salib

Itu kayu
tegak berdiri tiada layu
dan kucumbu sembari merayu:
kayu-Mu kayu manis, melukis indah tubuh-Mu.
Kemudian langit bergemuruh di sana, menggemeretak
daun-daun berguguran jatuh
perlahan jatuh
memeluk bibir Kalvari dan
terpaku diam. Tuhan, inikah cinta-Mu?

Ledalero, awal Maret 2013.

Di Jeda Nafas-Mu,  Aku

Di jeda nafas-Mu, aku tersentak
dan senja ini membentang kepak.
Lalu Engkau tertunduk tiada mengajak
melukis kayu yang tak lagi tegak.

Tuhan…….
Aku tersentak,
malu menanam hati pada puncak retak.
Sembari kuberpijak,
menatap-Mu memeluk diam tanpa sajak.

Tuhan…….
Kini di jeda bisu-Mu, kupeluk
dalamnya duka Golgota.
Dan kebenaran hanyalah seteguk
Lalu tumpah pada akhir cerita.

Tuhan….
Aku buta.
Sehabis terhempas  dangkalnya cita-cita.
Mungkin sampai  senja  berlalu
berlari menepis malam hingga pagi
bercerita.
Aku tetap buta.
Terperangkap kebutaan mencinta.
Di sini masih kujumpai Golgota
bercerita tentang cinta dalam derita.

Tuhan……
Aku gemetar.
Pada hidup yang berputar berujung  duka,
dan tanya apa itu kebenaran tak mampu kukata

Tuhan ……
Di jeda nafas-Mu, kutengadah
menyapa diri yang payah
susah
sepi

Tuhan….
Panggil aku
Panggil aku debu pada kaca
Panggil aku kayu pada abu
Ternyata aku sampah

Tuhan….
Di jeda nafas-Mu, kuberkisah
“Ternyata cinta itu murah, tapi
mencinta itu tidaklah murah.”

St . Mikael-Ledalero, 15/03/12

Dari Biara Menengok Keluar (Apresiasi atas Puisi Erens Djato dalam PSJ)


Menulis puisi atau sajak bagi seorang penyair itu membutuhkan sebuah permenungan. Baik itu penyair atau penyuka puisi mengakui bahwa sebuah puisi atau sajak yang dihasilkan bukan dari sesuatu yang kosong. Saya sependapat dengan Hengky Ola Sura yang menulis bahwa si penyair atau penyuka puisi bukan membuat sesuatu dari yang tiada (PK, 5/5/2013). Dengan kemampuan yang dimiliki seorang penyair mampu menghasilkan suatu puisi atau sajak yang berbobot. Kalau begitu, saya ingin menyelisik lebih jauh satu judul puisi hasil racikan seorang rekan dan saudara serumah saya, Erens Djato (ED).

Puisinya dengan judul “Biara 01” termuat dalam Pujangga Sandal Jepit edisi 26/Thn-V1/14 Sept-28 Sept. ’13 pada hlm 2. Puisi ini membuat saya tergerak untuk mengomentari lebih jauh apa maksud dan isinya. Ketika membaca puisi ini, saya menimbang-nimbang apa sebenarnya yang ED ingin sampaikan dalam puisi atau sajaknya. Saya ingin membagikan sedikit mengenai “Pujangga Sandal Jepit”, sebuah Komunitas Sastra yang diselenggarakan oleh para frater calon imam dan misionaris SVD dari unit St. Arnoldus Yansen, Nita Pleat-Ledalero.

Pujangga Sandal Jepit

Kita publik NTT patut bersyukur atas lahirnya komunitas-komunitas sastra yang semakin mendominasi surat kabar akhir-akhir ini. Salah satu dari sekian banyak komunitas sastra yang ada ialah Pujangga Sandal Jepit. Didirikan sejak tahun 2009 oleh para frater yang merasa penting kalau sastra itu dihidupi dari waktu ke waktu. Dengan satu semboyan unik “suara kami sederhana saja”. Sandal Jepit sudah jauh berkelana dan mengisi ruang-ruang hati pembaca. Menjadi kenyataan bahwa Pujangga Sandal Jepit selalu hidup dengan puisi-puisi hasil racikan para frater calon imam dan misionaris SVD.

Sepanjang perjalanan komunitas sastra yang satu ini, sudah banyak puisi-puisi hasil racikan para frater yang dimuat dalam lembaran sederhana. Hanya selembar kertas A4. Namun, di dalamnya tertera puisi-puisi yang hidup, kaya makna, dan sangat inspiratif. Tidak kalah saing dengan komunitas sastra lain, Pujangga Sandal Jepit juga telah menyentuh hati pembaca di NTT, karena sudah banyak puisi-puisi sudah menembus Harian lokal seperti Pos Kupang dan Flores Pos.

Hemat saya, begitu kreatif. Kalau dihitung-hitung sampai saat ini, Pujangga Sandal Jepit diperkirakan sudah memuat ratusan puisi-puisi kreatif hasil racikan para frater penghuni Wisma St. Arnoldus Yansen-Ledalero. Sudah pasti bahwa, puisi atau sajak yang dimuat itu bukan lahir dari sesuatu yang kosong. Selalu ada sesuatunya. Dan Pujangga Sandal Jepit edisi 26/Thn-V1/14 Sept-28 Sept. ’13 pada hlm 2 pun memuat satu sajak racikan ED dengan judul “Biara 01”. Ada beberapa puisi atau sajak yang sama menariknya, tetapi saya memilih untuk mengomentari puisi ED.

Puisi yang “Membongkar”

“Biara 01” menjadi puisi yang sederhana, tetapi menarik. ED mengawali puisi atau sajaknya dengan pertanyaan dan disusul jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan. Saya ingin mengomentari per bait puisi ED.

Pertama, pada bait awal yang terdiri dari 6 baris, ED membahasakan puisinya demikian; /Ke manakah kisah ini akan tiba?/Setiap jejak merupakan awal yang tak pernah berakhir/Lembaran waktu yang berhenti berdetak/Kuusap nadir pada helai hayal/Datang dan pergi/Tak tahu awal juga akhir.

Bait pertama puisi di atas menyodorkan kepada pembaca sebuah pertanyaan eksistensial mengenai kisah atau boleh dikatakan cerita umat manusia secara universal. ED tidak membahasakan secara jelas “kisah” yang dimaksudnya. Jika kita melihat realitas dengan setiap persoalan yang dihadapi, sakit, bencana, pembunuhan, pemerkosaan, dan lain-lain, maka ED sebenarnya memulai puisinya dengan mengintrogasi kisah anak manusia (baca, pengalaman) yang sedang terjadi saat ini. Hemat saya, kisah yang dimaksud ED dalam pertanyaan tersebut di atas berupa situasi-situasi ketercabutan, atau dalam pemikiran filsuf Karl Jaspers disebut “situasi-situasi batas” (Leo Kleden, 2013:2).

Karl Jaspers seorang filsuf eksistensialis pernah menguraikan pemahamannya bahwa adanya manusia selalu ditentukan oleh situasi-situasi konkret. Demikian juga eksistensi manusia selalu “tampak” dalam situasi-situasi tertentu. Situasi-situasi, dimana manusia menemukan diri sebagai “eksistensi,” disebut Jaspers “situasi-situasi perbatasan.” Dalam konfrontasi dengan kematian, penderitaan, perjuangan serta dalam kesalahan kita  merasa betapa fana hidup kita. Berangkat dari “situasi-situasi perbatasan”, benar sekali bahwa ED menyambung, /Setiap jejak merupakan awal yang tak pernah berakhir/Lembaran waktu yang berhenti berdetak/Kuusap nadir pada helai hayal/Datang dan pergi/Tak tahu awal juga akhir/. Kisah anak manusia atau cerita pengalaman kita pada umumnya selalu meninggalkan jejak atau bekas-bekas perjalanan. Manusia justru selalu memulai ziarahnya dengan melangkah, mengangkat kaki kiri atau kanan dan mulai berjalan maju. Ketika perjalanan itu semakin jauh, di sana akan ada banyak jejak yang ditinggalkan. Jejak itu adalah pengalaman yang selalu disandingkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut manusia. Inilah fakta yang dialami oleh setiap manusia yang belum tentu dijawab sampai tuntas.

Mengapa ED mengatakan lembaran waktu yang berhenti berdetak? De facto, manusia justru hidup dalam sejuta pertanyaan yang terus dilontarkan, “Mengapa kami sengsara, Tuhan?”. Begitulah ED melihat situasi konkret manusiawi, bahwa ada banyak luka yang terus terjadi dalam setiap detik, menit yang terus berlalu.

Lembaran waktu yang berhenti berdetak menjadi kalimat yang hidup dan memberi makna adanya situasi “kematian waktu”. Waktu itu sudah mati dalam setiap persoalan-persoalan keterbatasan manusia, bencana, sakit, kemiskinan, pembunuhan, pemerkosaan, dan lain sebagainya. Dalam situasi yang demikian, manusia merasa ada “kekeringan”, bahkan merasa tidak berarti apa-apa di hadapan-Nya. Semuanya itu terus mengiringi langkah perjalanan manusia dan tak pernah ada akhirnya. Kemudian, muncul pertanyaan-pertanyaan yang belum tentu semuanya itu dijawab.

Kedua, terdapat 4 baris dalam bait kedua puisi ED yang berbunyi, /Di kisah ini/Sembari kuberdoa/“Tuhan ke mana aku harus pergi”/Sedang arah tak menentu. Pergulatan dari kisah itu membawa ED pada permenungannya dengan Tuhan. Seakan ED mengadu dengan Tuhan atas peristiwa-peristiwa yang menimpa manusia. ED berdoa dan bertanya “ke mana ”; menjadi  semacam “gugatan” penyair atas persoalan-persoalan yang dihadapi manusia.

Paul Budi Kleden dalam bukunya berjudul Membongkar Derita, Teodice: Sebuah Kegelisahan Filsafat dan Teologi sengaja menggugat kita agar kita sampai pada pertanyaan-pertanyaan eksistensial kita sebagai manusia, termasuk bertanya tentang kehadiran Allah di dalam penderitaan, Engkau di mana Allahku? Penderitaan mesti dibongkar karena ia merusakkan unum (kesatuan), verum (kebenaran) dan pulchrum (keindahan). Penderitaan sebagai situasi malum (buruk) bertolak belakang dengan kesatuan, kebenaran, dan keindahan (Budi Kleden: 2007: 17-18). Sehingga dari dalam biara yang diam, hening, dan membutuhkan waktu lebih banyak untuk bermenung diri itu, ED menyempatkan sedikit waktunya untuk menengok keluar dari biara dan mendapatkan sedikit persoalan manusia lalu mengangkatnya ke permukaan. ED sedang “menggonggong” dan “membongkar” penderitaan manusia. Sebuah pertanyaan, apakah penderitaan itu berasal dari Allah sebagai hukuman atau kejadian alam biasa atau berasal dari perbuatan manusia sendiri? Kenyataan penderitaan dapat ditutupi dan dimanipulasi oleh siapa saja, seperti penderitaan dianggap sebagai cobaan belaka, kita harus lebih pasrah pada nasib, dan pada akhirnya kita hanya diam. Budi Kleden justru menekankan hal baru, yaitu pentingnya kejujuran dan keterbukaan terhadap realitas penderitaan karena akan membuat orang sadar akan dirinya yang sebenarnya dan penderitaan yang sedang dialaminya. Karena itu, puisi racikan ED sesungguhnya membuka mata dan pikiran kita untuk berkaca pada situasi-situasi keterbatasan manusia. Kita bukan hanya “menggonggong”, tetapi juga “membongkar” penderitaan yang sudah pasti diciptakan oleh manusia sendiri.

Ketiga, bait terakhir puisi ED terdiri dari 5 baris. Di sini, ED mengangkat situasi pantai dan bukan situasi biara di mana ia tinggal. /Di bibir pantai/Kucoba menghitung desir/Tapi tak abadi/Apa kau Tuhan????/Jejak yang selalu abadi. Kita perlu bertanya, mengapa ED membahasakan akhir dari puisinya dengan menyinggung “pantai”? Hemat saya, kalau ED ingin menampilkan situasi hanya di biara saja, maka puisi ED hanya menjelaskan realitas panggilannya semata. Namun, patut diapresiasi bahwa ED menyentil “pantai” sebagai locus atau tempat yang berada di luar dari biara. ED benar-benar keluar dari situasinya, yaitu “biara” dan mengakrabi diri dengan situasi “pantai”, situasi masyarakat kebanyakan, situasi di desa dan kampung-kampung kita. “Pantai” menjadi sebuah locus yang akrab dengan masyarakat di luar. ED juga menyinggung nama Tuhan, Apa kau Tuhan? Jejak yang selalu abadi. ED kembali mengakui bahwa dalam setiap derita dan cobaan atau situasi-situasi batas yang dihadapi oleh manusia, di dalamnya ada misteri. Ada sesuatu yang lain yang disebutnya sebagai “yang abadi”. Apakah itu bukan Tuhan? Setiap penderitaan baik itu paling menyakitkan, selalu saja nama Tuhan itu disebut. Manusia berkaca dalam situasi-situasi batas agar bisa menarik diri untuk merenungkan “wajah Allah” di dalamnya. Ini menjadi hal yang sangat baik kalau kita terus merefleksikan pengalaman-pengalaman hidup kita masing-masing.

Cuma Menengok?

Maka, dari dalam biara itu, ED seperti “menggonggong” dengan nyaring dan “membongkar derita”. Bunyi nyaring itu pun ditemukan dalam puisi atau sajak hasil racikan ED sendiri. Dari “biara” yang diam, hening, dengan rutinitas yang sama itu, ternyata seseorang mampu “menengok” ke luar dan melihat keterbatasan manusiawi yang sarat dengan “situasi-situasi perbatasan” itu. Apa kita hanya “menengok” saja?

Dimuat di Flores Pos, 18 Februari 2014.

 

 

 

 

Cerita Kita


Waktu berlalu begitu cepat. Hari ini hampir berakhir. Wajah bumi mulai menua kelam. Perlahan mentari merapat di balik bebukitan kampung Boru Tanah Bojang*, sementara bayang-bayang hitam merebah perlahan dalam diam, seakan menggulung pergi berkas-berkas cerita hari ini. Kini, bulan pun tersenyum menyambut malam. Hari ini berakhir di pembaringan. Memang begitulah ritme perjalanan manusia; terus mengalir. Ada suka, ada duka yang terpahat sebagai realitas. Itulah kenyataan hidup yang sebenarnya. Kenyataan yang tidak akan terlepas dari lingkaran hidup manusia. Hidup sungguh mengikat manusia dalam nasib dan sejarah, hingga tanya pun tercipta di penghujung malam ini; “Ke mana kita akan mencari pijakan yang pasti ?”

“Yohan, aku hanya ingin tahu jawaban manusia atas  realitas. Mungkin kamu lebih tahu jawaban itu, apalagi kamu adalah calon imam, masa depan gereja, bangsa dan negara. Perjuanganmu untuk mencapai imamat sungguh menampilkan kesungguhan radikal yang sulit diubah. Inilah rumahku, Yohan. Menyedihkan; tapi betapa dahsyatnya kedamaian yang terangkai di dalamnya. Itulah keindahan yang terlukis sebagai warna hidup bagi kami yang menghuninya. Rumah beratapkan alang-alang, berdinding bambu, tapi ini luar biasa dan bukan biasa-biasa saja,” ungkap Mikho. Sebagai sahabat yang telah lama berjalan bersama walau jalan kita berbeda, aku ingin mengungkapkan lebih jauh tentang kerinduanku yang sudah lama terpendam. Aku akan merasa puas ketika aku sudah membongkar semua kerinduanku ini sebagai  satu kecemasanku. Yohan akan mengerti situasi orang kampung. Yohan berasal dari Kupang, Sebuah kota dengan begitu banyak keindahannya apalagi keluargamu boleh kusebut ‘kaum elite’. Jika dibandingkan dengan orang-orang kampungku; kamu punya lebih banyak sedangkan kami berusaha untuk mempunyai lebih dan menjadi lebih dari keterbatasan yang kami miliki.

Yohan hanya terdiam seribu kata tanpa sedikit suara untuk meramaikan percakapan antara keduanya. Dengan bahasa tubuh, Yohan memberikan waktu kepada Mikho untuk menceritakan lebih jauh tentang  keadaannya. Hidup ini keras. Ada begitu banyak orang yang berjuang keras  memecahkan kerasnya hidup dan berusaha mencari maknanya, tapi selamanya makna yang dicari hanyalah keterpurukan. Akhir-akhir ini, kematian menjadi hangat di telinga setiap orang. Penyebab kematian itu tentunya aku tahu, tapi sungguh bosan bila kuceritakan. Mungkin, Yohan sudah membaca berita ini di surat kabar kemarin dulu. Aku hanya mendengar bahwa kematian itu  segera akan merampas hidup orang-orang kampung. Mereka yang berada  di desa-desa kecil di Timor, semakin hari semakin rajin dan pintar mengais ubi dan asam untuk bertahan hidup. Dan aku justru tidak sadar bahwa kampungku yang boleh kusebut sebagai Ban-Dung penghasil komoditi atau Bawalatang-Duang* dengan hasil utama kopra, coklat, kemiri dan hasil-hasil tanaman lainnya pun mulai mengalami nasib yang sama. Hal  ini sangat  menakutkan dan  Yohan  tahu bahwa malam ini adalah malam ketiga atas kepergian adikku Yandro. Kedua sahabat lama itu hanya memandang keluar jendela. Diam seakan membius keduanya dalam beberapa menit; sepi dan dinginnya malam itu seakan membuat keduanya gelisah, tapi sebungkus filter sungguh memberanikan mereka untuk bertahan mengarungi pekatnya malam itu.

”Mikho, suatu keadaan dengan beribu macam tantangannya saat ini harus kita sikapi dengan keberanian. Berani menangkis buruknya sebuah peristiwa dan bukannya mengalah pada keadaan saat ini,” Yohan membuka mulut; baru kali ini dia berbicara. Nampak, ia juga ingin sekali membuka mulut untuk lebih banyak lagi merangkai kata, tapi entah mengapa ia hanya memilih diam. Mungkin udara di luar rumah yang cukup dingin itu, begitupun di dalam rumah, tapi dingin buat keduanya bukanlah apa-apa. ”Mampu bertahan demi memerangi gelapnya malam hingga pagi menyapa ?” Mikho menawarkan dengan pasti. Tiada penolakan dari Yohan. Dalam hembusan angin  malam itu, Mikho pun mulai bercerita lebih dalam. Keduanya bertolak lebih jauh; bertolak menapak malam; menapak cerita pengalaman masing-masing. “Yohan, orang dari kampung tetangga meninggal kemarin dulu karena jatuh motor;  ada lagi yang lain, kakak membunuh adik  lantaran berebutan pisang masak saat mengumpulkan kayu bakar. Memang lucu kedengarannya tapi itulah realitas yang terjadi di kampung. Ya…, semuanya terjadi di tanah ini; perampokan, pembunuhan, pemerkosaan, peras-memeras, suap, selingkuh dan masih ada yang lain. Ah….aku takut, Yohan. Aku takut mati. Sekarang aku masih sangat muda dan aku mau hidup seribu tahun lagi. Aku mau menandingi Cahiril Anwar yang mau hidup seribu tahun lagi sebagai yang muda, semangat dan punya suara lantang. Tapi saat ini aku justru kalah dan rasanya kematian akan segera menjemputku. Aku takut akan semua kejadian di tanah ini bisa menjadi lumpur lapindo yang mematikan dan memusanahkan hidup kami.”

“Cukuplah Mikho! Hentikan ceritamu sejenak. Seharusnya kamu lebih tenang. Kamu bukan seperti laba-laba yang membangun sarangnya di bawah mimbar dan selalu merasa terancam ketika sarangnya digusur oleh Si Koster. Hehehehe……, barangkali kamu harus lebih berani bersuara dengan lantang. Apakah kamu takut mati? Kalau Mikho merasa ingin mati muda, biarlah aku yang melamar diri untuk membunuh Mikho, tapi maaf, aku bukan seorang pembunuh.” “Hmmm….,kalau Yohan mau jadi pembunuh, sebaiknya kamu meneror orang-orang kampung. Mereka kurang berpendidikan. Kalau  Yohan mampu, ya  Yohan sendiri bisa dijuluki pembunuh gelap atas Si Munir pejuang HAM itu,” Mikho bergurau. Yohan semakin semangat sembari menyambung lagi komentarnya, “Ya…aku harap semangat Si Munir bisa menjadi semangat kamu. Kamu pejuang HAM yang cukup disegani di NTT. Bekerja dalam sebuah lembaga kemasyarakatan. Itu berarti kamu harus  berjuang untuk rakyat yang lemah dan menyuarakan keterbatasan suara mereka. Kamu memiliki fasilitator lapangan yang senantiasa turut merasakan jeritan kaum miskin papa, dekat dengan kaum marginal dan harus sering larut dalam getaran batin kaum tertindas. Kamu telah menjadi pemimpin bagi kami dan aku hanyalah sahabat lamamu. Dulu kita seseminari di Hokeng, tapi sekarang kau sudah jadi orang, jadi manusia yang jauh lebih baik. Aku hanya minta bahwa menjadi pemimpin berarti mampu merasakan susah dan senangnya rakyat. Sekarang  memang duka derita lebih banyak digenggam oleh rakyat kecil; rawan pangan, jalan raya yang kurang diperhatikan. Aduh MIkho, aku jadi turut prihatin atas bencana di tanah ini. Kita…..,menyedihkan!!”

Mikho tersentak kaget. Ia tampak sendu menatap  Yohan. Kebisuan kembali terangkai jadi monumen penghias cerita di penghujung malam yang semakin menua menjemput mentari pagi. Jawaban  tepat  atas realitas pun terurai di jantung malam Minggu itu. Malam yang masih dirinai duka dalam seribu tanya. ”Memang benar bahwa hidup adalah suatu pertanggungjawaban. Berani menjadi pemimpin berarti berani merasakan pahit getirnya cerita tentang hidup dan cerita kita tidak akan berakhir di sini. Cerita kita akan terus terangkai dalam berkat dan beban, tapi justru menjadi senyuman paling indah yang  terberi sebagai hadiah dari-Nya,” ungkap  Yohan di jantung malam itu saat keduanya beranjak ke pembaringan yang sudah sejak tadi dirindukan.*

Saat hidup menjadi kering karena duka derita atas manusia

St. Mikael-Ledalero, Oktober 2011

*Kampung Boru Tanah Bojang: Ibukota Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur.

*Ban-Dung atau Bawalatang-Duang: Dua lewo atau kampung di bawa kaki Gunung Lewotobi. Letaknya 4 Km dari Boru.

Dimuat di Pos Kupang, 14 Juli 2013

 

Ada Dalam Kata


Engkau masih saja berkata-kata sampai sekarang. Kemarin aku melihat kau duduk di sudut kamar, mengambil sebatang rokok, menyalakan korek api, lalu membakar rokok itu. Kau tampak santai sembari menarik dalam-dalam asap dan menghembuskannya dengan lebih nikmat. Nikmat sekali. Aku justru menjadi penikmat seni pada senja kemarin itu. Memang seni sekali mengamati sosok dirimu sebagai seorang seniman. Aku menyebut kau orang seniman, tapi aku memanggilmu hanya dengan satu nama yaitu Kata. Nama itu yang menurut aku begitu unik dan karenanya aku merasa bangga. Itu nama yang bagiku paling sejati.

Aku mencoba memahami namamu dan menyusuri kembali setiap jejak yang membekas dalam kenangan. Sejak berada di Seminari Hokeng, aku mengerti satu hal mengenai dirimu. Engkau adalah Kata. Banyak teman seperjuangan yang menilai bahwa kau orang gila. Kebanyakan dari mereka yang mengumpat namamu, tapi aku sendiri bahkan mengagung-agungkan nama itu. Engkau tetaplah Kata. Kata yang jujur, polos dan rendah hati. Kata yang selalu merangkai kata-kata menjadi kalimat-kalimat indah untuk dibaca, direnungkan, dan dikenang sampai kekal.

“Ada apa denganmu, Kata?” tanyaku.

Setiap kali aku bertanya dalam hati tentang namamu, akhirnya aku paham bahwa kata itu adalah daging. Itulah dirimu. Bermula dari kata terlahir engkau yang unik bahkan misterius.

Dan karena kau unik dan misterius, saat ini semua orang merindukan namamu. Mereka rindu mendengar lagi kicau-kicau suaramu. Rindu membaca setiap kata-kata yang kau rangkai jadi kalimat-kalimat di setiap koran-koran kota. Kata-kata yang mampu menghentikan bumi. Begitu dahsyat kata-katamu. Memang kau bernama Kata yang selalu memberi arti bagi orang-orang kalah di kota ini.

“Bagaimana kau lahir, Kata?” tanyaku lagi.

Kau pernah bercerita padaku tentang saat-saat kelahiranmu. Ibu melahirkan kau dengan kesakitan yang panjang. Ibu menunggu kau datang pada bulan kesembilan dan berharap kau tiba lalu menatap dunia yang penuh kebobrokan ini dengan tangisan. Menangis secara alamiah. Itu kebenaran yang tak bisa disangkal. Tapi, kau berbeda. Kau lahir tanpa tangisan. Ibu merasa asing. Mengapa kau mengawali hidupmu dengan diam. Kelahiran yang benar-benar diam. Kau diam dan ibu pun diam. Akhirnya semua pun turut diam.

Harapan ibu meleset. Kau lahir membawa satu kata. Diam. Ya, diam. Semua orang menjadi diam. Entah mengapa semuanya diam; sudah kutebak bahwa kau memang lahir dari kata. Kata yang hidup di setiap mata yang melihat dan telinga mereka yang ingin mendengarkan kau bersuara serupa kicau pipit-pipit menunggu mentari menghalau embun pagi.

“Sebenarnya kau diam, tapi dalam diammu kau berkicau. Kau berkicau-kicau sampai semua orang diam dan mengerti bahwa kau adalah seorang yang bukan pendiam.” Kataku dalam hati.

Tanpa aku sadari di sekelilingku tampak gelap. Ah, waktu berlalu begitu cepat. Kemarin sudah berganti hari ini, Sabtu yang dirindukan. Dan aku masih mengenangmu dalam ingatan ini. Di kamar sepi ini, aku berada dalam kata. Kata-kata yang tampak berperang, berpagutan, dan bercumbuan dalam otakku yang sempit. Aku pun terperangkap dalam ingatan. Ingatan yang selalu membawa aku mengenangmu dengan satu nama saja. Kau adalah Kata. Sekali menjadi Kata, namamu tetaplah Kata. Kata yang selalu hidup di hati mereka yang mencintaimu.

“Bukankah kau mau supaya aku menceritakan semua tentang namamu, Kata?” perasaanku mendesak aku untuk selalu berbicara tentang namamu.

Sejauh ini, kita adalah sahabat. Aku tahu siapa kau dan kau tahu siapa aku. Selalu ada rotasi. Kita berjalan bersama sejak perjumpaan di rumah pesemaian itu. Rumah itu adalah kata. Awalnya kau menanam asa dan memetik kata-kata yang semakin merdu di setiap langkahmu. Rumah itu telah mengandung kau menjadi seorang yang pandai berkata-kata. Rumah itu ibumu yang melahirkan dirimu yang unik dan misterius itu.

“Masihkah kau mengingatnya dalam lubuk hati yang terdalam?” tanyaku lagi dan lagi.

Pernah kau berkata bahwa rumah itu membuatmu jeli menatap kesedihan orang-orang kalah. Aku berharap katamu tidak salah. Satu keyakinanku, kau selalu ingin merasakan pahit dan manisnya hidup yang sedang mereka alami. Waktu itu, kau tampak sedih. Aku melihat kau duduk di sudut kamarmu, mengambil pensil, lalu mencoret-coret buku harianmu.

Aku tahu apa yang kau lukiskan di atas kertas putih itu. Sudah pasti kau merangkai kata menjadi kalimat-kalimat merdu dalam bait-bait dan rima puisi yang indah. Itu aktivitas harianmu; merangkai kata demi kata. Dirimu, selalu ada kata untuk berkata-kata. Sungguh unik, serentak misterius. Aku selalu membilang kau begitu. Sampai kapan pun, kau akan kupanggil dengan nama “Kata”.

Di sini, aku sendiri masih mengenangmu dalam ingatan ini. Malam Minggu adalah malam yang panjang. Dan aku harus mengarungi kepekatan malam ini sembari bergulat dengan kata-kata. Serupa dirimu yang hidup dalam kata, aku pun begitu. Aku haus kata, aku lapar akan kata-kata. Lalu semuanya bermuara pada kesibukan melukis kata di atas kertas putih. Hasilnya, dunia melihat kita berbicara lewat koran-koran kota.

“Kita harus terus menari dalam kata?” desakku.

“Ah, sepertinya aku gila, sendiri berbicara dengan angin malam. Hehehe…” gumamku.

“Kata, kau harus menjadi dirimu. Teruslah mecoret-coret buku harianmu itu. Kau sudah menjadi penyair di kota ini. Semua orang merindukan kau mengunjungi mereka berkali-kali di setiap koran-koran yang singgah di tengah-tengah mereka. Suara mereka dibungkam, dan kau harus terus ada dalam kata. Mereka rindu kata-katamu yang merdu untuk membongkar kebobrokan penguasa di tanah ini….” ku berteriak keras. Tak peduli apakah itu mengganggu jam tidur para tetangga atau tidak.

“Begitulah aku. Malam minggu itu membuatku gila. Aku benar-benar menjadi orang gila. Panggil saja aku orang gila” kumengoceh sendirian.

Sesekali aku diam. Aku mencoba menyingkirkan semua kata-kata yang selalu bertukar-tangkap dalam otak sempitku. Namun, tidak ada hasil. Semakin aku diam, kata-kata terus mengalir.

Giliranku dibujuk oleh kata-kata. Dia, seorang yang kusebut dengan nama “Kata” itu, kini menarik aku untuk berkaca pada sosoknya. Aku jatuh cinta padanya. Aku jatuh cinta pada kata-katanya yang tajam dan penuh makna. Aku ada dalam kata. Membayangkan sosok “Kata”, aku pun terhipnotis di dalam indahnya imajinasi yang membakar asaku.

“Kaukah kata itu?” kuselidiki keheningan malam itu.

Semakin larut. Malam ini semakin menepi. Aku terpenjara dalam ingatan tentang sahabat baikku. Sebenarnya dia biasa dipanggil Hans. Seorang yang pemalu dan pendiam. Tapi, aku bangga ketika dia terus menari dalam kata-kata. Aku rindu kata-katanya. Aku rindu mendengar kicau suaranya di hari Minggu dalam ruang imajinasi koran milik tanah ini. Kemudian, aku menuangkan sepotong ide dalam buku harianku. Aku menulis kata-kata ini untuknya.

Untuk Kata

Bermula dari kata. Serupa kata engkau, lahir dari huruf ibu, membidikan diam terurai merdu kata-kata. Ku sebut engkau baris dan rima puisi. Berjejal-jejal intuisi. Lalu hati membakar pesi puisi: Engkau ada, sungguh!” kataku. Meyakinkan.

“Bukankah kau mau aku berhenti ada dalam kata” tanyaku dalam hati.

Begitulah mulanya aku jatuh cinta pada Kata. Di sini, sisa-sisa bayangannya terus mengendap di balik kaca jendela. Dia membuatku memahami bahwa kata itu mahal, dan sebaiknya aku pun hidup dalam kata. Dan setelah itu, kami lebih memilih sembunyi dalam diam, mencoba memetik kata-kata  di persimpangan hidup yang keras dari waktu ke waktu.


Nita Pleat, 04 Juni 2013

Dimuat di Jurnal Sastra Santarang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Puisi yang Lahir dari Rutinitas


(Sebuah Apresiasi atas Puisi Yohan Wutun)

31102010(011)Kenagan Live in di Paroki Rekas, Manggarai Barat (2010)

“Sejak dua minggu lalu, setiap malam, sesudah dengar radio, aku bunuh diri, pakai sajak yang kau tulis, dengan tangan kirimu. supaya setiap pagi, sebelum lonceng berbunyi, aku dapat bangkit lagi, mengasah tajam-tajam, sajakmu, yang itu-itu lagi.” Demikianlah bunyi sajak yang ditulis oleh saudara Yohan Wutun dengan judul “Rutinitas” (2014). Yohan Wutun adalah rekan sebiara dalam Serikat Sabda Allah (SVD), yang untuk selanjutnya saya sebut YW. Ia menulis sajak ini dalam sebuah statusnya di Facebook. Ketika membaca sajak YW, di benak saya muncul sebuah pemahaman mengenai puisi yang sedikit aneh. Umumnya, orang mengartikan puisi sebagai ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Atau, gubahan bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman supaya membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus. Maka, puisi YW di atas, hemat saya merupakan  sebuah proses mempertajam adanya (diri YW) dalam, dari, dan untuk sesuatu. Dan, sesuatu yang dimaksud di sini ialah rutinitas.

Membaca sajak YW ini,  pertama-tama dipahami bahwa YW hidup dalam biara dengan segala aturan yang ada di dalamnya. Biara sebagai tempat mendidik calon imam mencerminkan sesuatu yang rutin, dengan segala aturan yang disusun teratur dan tidak berubah-ubah. Atau, serangkaian perintah yang dirancang untuk beberapa tujuan tertentu dan memiliki penggunaan umum. Maka, sajak berjudul “Rutinitas” ini sebenarnya lahir dari sebuah kesadaran akan sesuatu yang rutin, sehingga memberi makna bahwa sajak YW tercipta dari kesadarannya yang penuh, dalam, dari, dan untuk sebuah rutinitas.

YW dan Puisi

YW adalah seorang adik satu seminari sejak bersekolah di Seminari Hokeng. Setelah tamat dari Seminari Hokeng, YW masuk Novisiat Sang Sabda di Kuwu, Ruteng, Manggarai. Sekarang, YW tengah belajar filsafat di STFK Ledalero sambil menulis puisi juga cerpen. Kecintaan YW pada sastra, khususnya puisi dan cerpen yang digumulinya sejak masih di Seminari Hokeng membawanya meraih Juara I (satu) lomba Sayembara Menulis Cerpen Menyongsong Dies Natalis STFK Ledalero (2013). Beberapa puisi YW juga sudah dimuat di Harian Flores Pos dan beberapanya di Jurnal  Sastra Santarang (sebuah jurnal sastra yang menghimpun tulisan-tulisan putera-puteri NTT berupa puisi dan cerpen). Puisi YW berjudul “Rutinitas” memberi kesan bahwa YW  tidak terlepas dari puisi. Hidup YW adalah puisi. Ia ada di dalam sesuatu yang rutin. Hemat saya, YW mempuisikan dirinya itu, di dalam, dari, dan untuk rutinitas. Sehingga, pantaslah kalau “Rutinitas” sungguh menjadi satu judul puisi yang mewakili keseluruhan puisi-puisinya, yakni “Rutinitas” yang transendental atau “Rutinitas” yang menonjolkan hal-hal yang bersifat kerohanian, pergumulan batin YW dengan Tuhannya.

Rutinitas yang Transendental

YW pernah menulis beberapa puisi lain yang tidak kalah menarik. Membaca puisi-puisinya, kita sebetulnya terbawa dalam apa yang disebut sebagai “Rutinitas”. Beberapa dari judul puisi yang pernah ditulisnya seperti, Kopi Lima Waktu, Kopi Pahit, Secangkir Malam pada Suatu Kopi, Persamaan Kopi ini dan Malam ini,  Sejak Kapan Buat Sajak? Kalau kita mencicipi puisi-puisi YW ini, itu berarti kita sedang mencicipi rutinitas khas Biara. Rutinitas yang menonjolkan nilai-nilai kerohanian, pergumulan batin YW dalam seluruh rutinitasnya. Misalnya, penggalan puisi dengan judul “Rutinitas” tersebut di atas, /Sejak dua minggu lalu/setiap malam/sesudah dengar radio/aku bunuh diri/pakai sajak yang kau tulis/dengan tangan kirimu/. Bait pertama puisi ini sangat sederhana. Pemilihan kata demi kata yang menghasilkan kalimat yang mengalir. Kata sejak, justru menentukan waktu yang sudah lama sekali. Ketika YW melanjutkan dengan dua minggu lalu, maka kata sejak itu menghubungkan antara minggu pertama dan minggu kedua, tepatnya pada setiap malam, sesudah (selesai) dengar radio, aku atau (YW) bunuh diri, pakai sajak yang kau tulis, dengan tangan kirimu. Sebuah pertanyaan bisa diajukan di sini. Mengapa YW bunuh diri? Pakai sajak yang “kau” tulis? Mengapa harus “kau”? Kenapa YW bunuh diri pakai sajak dan tidak menggunakan senjata, misalnya pisau, baigon, atau lainnya? Siapakah “kau” yang dimaksud YW?

Sebetulnya YW dalam pergumulannya sampai pada satu titik jeda, pada malam hari. Malam yang sejatinya sunyi dan hening itu membawa YW masuk ke dalam dirinya. YW melihat kembali sesuatu yang rutin dialami sehari-hari, mulai dari bangun pagi, mandi, berkemas menuju kapela, ibadat, meditasi, merayakan Ekaristi, sarapan pagi, berangkat ke kampus (kuliah), makan siang, tidur siang dan bangun lagi, belajar, kerja, ibadat sore, makan malam, rekreasi, dan tidur malam. Rutinitas yang konkret disadari sebagai puisi. Aku bunuh diri memberi arti YW menggali lagi hal-hal yang mati setelah sehari penuh sibuk dengan rutinitas yang padat. YW membunuh diri pakai sajak yang “kau” tulis. Mengapa harus “kau”?

Dalam penggalan puisinya, YW sengaja menulis kau dengan huruf kecil. Sebenarnya kau yang dimaksud ialah Kau (Tuhan). Tuhan di sini, dalam pemahaman YW adalah Tuhan yang ditentangnya. Tuhan yang membuat YW bunuh diri, merasa jenuh dengan sesuatu yang rutin, yang disebut YW sebagai sajak tulisan tangan kirinya. YW tidak berhenti pada titik itu, tetapi menyadari secara penuh sambil berdiri dan mengatakan; /supaya setiap pagi/sebelum lonceng berbunyi/aku dapat bangkit lagi/mengasah tajam-tajam/sajakmu/yang itu-itu lagi/. Adanya proses kelahiran kembali. YW bangkit lagi dari kekalahannya untuk menjalankan secara lebih baik rutinitas yang itu-itu saja. YW merindukan tajamnya sajak, atau rindu menjalankan aktivitas harian dengan sadar dan penuh tanggung jawab, sesuatu yang rutin yang menurut YW adalah hadiah dari Kau (Tuhan). Namun, YW sebenarnya kembali mengurung semangatnya dengan mengatakan pada akhir puisinya, yang itu-itu lagi. Mengapa demikian?

Kembali ke dalam Diri

Di Facebook, saya sempat mengomentari puisi ini. Kemudian, Saudara Gusti Horowura, SVD secara tajam mengomentari juga puisi YW. Menurutnya, ada banyak hal yang menarik. Kalau memang yang itu-itu lagi, berarti tidak ada kemajuan. Seorang filosof yang juga penyair semestinya adalah dia yang mampu merefleksikan hidupnya jauh melampaui yang bukan penyair. Saya juga setuju dan turut menyambung bahwa, yang itu-itu lagi berarti rutinitas yang sama atau rutinitas yang itu-itu saja, perlu diasa dengan kata ‘harus’. Maka, saya atau YW dan kita mau tidak mau harus menikmati apa itu aturan atau lainnya. Yang terpenting, bagaimana kreativitas kita mengubah yang itu-itu saja menjadi sesuatu yang bukan itu-itu saja. Paling tidak ada yang lain, ada sesuatu yang berubah. Dengan demikian, YW dan kita harus kembali ke dalam diri. Kembali lagi mengasa tajam-tajam sajaknya (rutinitas) sebagai pengalaman dan hadiah dari Dia Yang Tak Terbatas.

Puisi berjudul “Rutinitas” ini juga sangat mencerminkan Transendensi (nama yang paling umum dipakai Karl Jaspers filsuf besar abad 20). Dalam sebuah perkuliahan, Pater Leo Kleden, SVD mengatakan bahwa, Jaspers menggunakan kata Transendensi untuk mengungkapkan Yang Maha Tak Terbatas, yang tak terjangkau oleh pikiran manusia biarpun manusia selalu mencoba menyebut Dia dengan bermacam-macam nama seperti, Yang Abadi, Asal, dan lainnya. Maka, YW menggunakan kata “kau” (Tuhan) yang selalu mengisi seluruh rutinitas di biara, sehingga YW menjadi benar-benar berada di dalam rutinitas, berasal dari rutinitas, dan untuk rutinitas. Dalam pergumulannya, YW terus berbincang atau bercerita tentang dirinya dan Transendensi sebagaimana yang sering dipakai Jaspers. Hal yang sangat penting ialah bukan hanya YW yang harus masuk ke dalam dirinya, tetapi kita, calon imam, para imam, bruder, suster, dan kita sebagai masyarakat peziarah perlu kembali ke dalam diri.  Kita masuk dan menggumuli pengalaman batin bersama Dia Yang Tak Terbatas.

Di sini, hal baru yang diberikan YW adalah puisi yang lahir dari rutinitas. Hal yang jarang disentil oleh penyair-penyair. YW justru sedang menulis tentang sesuatu yang rutin, yang mewakili seluruh kepuisiannya. Hal yang penting, yakni YW tidak terlepas dari kehidupannya sebagai calon imam yang tentu menggumuli banyak hal berhubungan dengan kerohanian. Selanjutnya, dalam sebuah puisinya yang berjudul, Kopi Lima Waktu (2013) berbunyi, Aku heran, karena/Mereka bilang/Mereka heran, ketika/Aku bilang/Aku minum kopi lima waktu/. Kopi Lima Waktu, merujuk pada aspek-aspek dalam Serikat Sabda Allah, yakni kepribadian, akademik, kerohanian, solidaritas, dan kaul-kaul yang dihayati, kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan. Kopi dengan rasa manis bisa juga pahit karena tanpa gula, memberi rasa suka dan duka, manis dan pahit. Adanya variasi suka maupun duka dalam menghayati aspek-aspek kebiaraan dalam Serikat Sabda Allah.

Beberapa aspek ini masuk dalam satu ruang yang disebut sebagai “Rutinitas”. Hal yang rutin, yang tidak dilihat sebagai (hanya) main-main, melainkan harus diolah untuk diberi bobot bagi hidup seseorang. Dan YW justru telah menunjukkan kepada kita bagaimana memulai puisi yang lahir dari rutinitas. Rutinitas memang yang itu-itu saja, tetapi bagaimana kita meraciknya menjadi yang bukan itu-itu saja. Dengan demikian, awal kepenyairan YW ini merupakan awal mempuisikan dirinya dalam, dari, dan untuk sesuatu yang rutin. Sesuatu yang akan terus dipertentangkan YW dengan kau, Tuhan-nya YW dan Tuhannya kita juga. Mengutip Joko Pinurbo, Selamat Menunaikan Ibadah Puisi. Proficiat untuk Yohan Wutun!*

Pernah dipublikasikan di Flores Pos